Hak Anak dan Lingkungan Belajar yang Terlupakan


Oleh: 

Mulyawan Safwandy Nugraha

Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia

Dosen UIN SGD Bandung

Direktur Research and Literacy Institute

Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi



Tulisan ini adalah respon dan refleksi saya atas kegiatan PP PGM Indonesia yaitu TalkShow Ekoteologi dan Madrasah Ramah Anak Bersama KPAI yang diadakan di Ponpes Ibadurrahman Tegallega Kota Sukabumi pada Selasa, 3 Februari 2026. Yang jadi Narsum adalah Dr. Aris Adi Leksono, M.Pd (Komisioner KPAI).


------


Pagi itu saya berdiri di halaman madrasah dengan perasaan yang tidak sepenuhnya tenang. Anak-anak datang dengan wajah cerah, tetapi sebagian matanya kosong. Ada yang menunduk menatap layar, ada yang tampak gelisah tanpa sebab jelas. Saya sempat berpikir, jangan-jangan sekolah ini terlalu sibuk mengatur, tapi lupa mendengar. Dari situ kegelisahan saya mulai tumbuh.


Saya sering bicara tentang ekoteologi di ruang diskusi. Namun ketika melihat halaman madrasah yang panas dan gersang, saya merasa bersalah. Teori terasa jauh dari kenyataan. Ekoteologi seharusnya bicara tentang kedekatan manusia dengan alam sebagai ciptaan Tuhan. Tapi di sekolah, alam sering hanya jadi latar, bukan bagian dari proses mendidik jiwa anak.


Madrasah ramah anak juga kerap saya sebut dalam forum resmi. Tetapi di lapangan, saya melihat bentuk ramah itu masih dangkal. Tidak memukul belum tentu melindungi. Tidak membentak belum tentu menenangkan. Lingkungan yang keras, target akademik yang menekan, dan minimnya ruang bernapas adalah bentuk kekerasan yang sunyi. Saya gelisah karena itu sering dianggap biasa.


Dalam maqoshidusyariah, menjaga jiwa dan akal adalah tujuan utama. Namun saya bertanya pada diri sendiri, apakah madrasah sungguh menjaga jiwa anak. Atau justru ikut melatih mereka untuk menekan perasaan sejak dini. Anak-anak terlihat patuh, tapi diamnya terasa berat. Kegelisahan ini tidak selalu punya jawaban.


Anak memiliki hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi. Kalimat ini sering terdengar normatif. Tapi ketika seorang anak tidak berani bicara di kelas karena takut disalahkan, saya merasa hak partisipasi itu rapuh. Ketika anak kelelahan oleh tugas dan tuntutan, hak tumbuh kembangnya dipertanyakan. Saya tidak nyaman mengakuinya, tapi itu nyata.


Teknologi datang tanpa permisi. Gawai masuk ke ruang kelas, ke kantong seragam, bahkan ke ruang batin anak. Media sosial membentuk cara mereka melihat diri. Saya sering cemas melihat anak lebih takut tidak direspons di dunia maya daripada tidak dipahami di dunia nyata. Madrasah seperti tertinggal satu langkah di belakang.


Saya tidak anti teknologi. Tapi saya takut ketika madrasah tidak punya sikap. Anak dibiarkan belajar sendiri menghadapi banjir informasi. Tanpa pendampingan nilai. Tanpa jeda refleksi. Ekoteologi seharusnya memberi keseimbangan, mengingatkan bahwa hidup tidak selalu cepat, tidak selalu ramai, dan tidak selalu harus dinilai orang lain.


Pernah suatu hari kami mengajak anak belajar di luar kelas. Hanya duduk di bawah pohon, berbicara ringan. Ada anak yang tiba-tiba bercerita tentang rasa lelahnya. Bukan soal pelajaran, tapi soal hidup. Di situ saya merasa, mungkin inilah madrasah ramah anak yang sering kita lupa. Sederhana, tapi jujur.


Sebagai guru dan pendidik, saya juga tidak selalu siap. Ada hari ketika saya sendiri lelah, tergesa, dan kurang sabar. Kegelisahan saya bukan hanya pada sistem, tapi juga pada diri sendiri. Ekoteologi menuntut konsistensi. Dan itu tidak mudah. Mengaku lemah kadang lebih berat daripada memberi ceramah.


Kurikulum, target, dan administrasi sering membuat madrasah kehilangan arah. Kita sibuk mengejar angka, lupa membaca wajah anak. Maqoshidusyariah memberi kompas, tapi kompas itu sering kita abaikan karena terburu-buru. Saya gelisah karena sadar, perubahan tidak cukup dengan slogan.


Ekoteologi dan madrasah ramah anak bukan konsep ideal yang bersih dan rapi. Ia lahir dari kegelisahan. Dari rasa tidak puas. Dari kesadaran bahwa ada yang salah tapi belum sepenuhnya kita pahami. Anak-anak merasakan itu lebih dulu daripada kita.


Saya menutup hari dengan perasaan campur aduk. Ada harapan, tapi juga cemas. Madrasah seharusnya menjadi ruang aman untuk menjadi manusia. Jika ekoteologi membantu kita lebih peduli, dan ramah anak membuat kita lebih mendengar, mungkin kegelisahan ini ada gunanya. Setidaknya, ia menjaga saya agar tidak terlalu cepat merasa benar.

3 Komentar

  1. Barokallah pa dok. Alangkah senangnya mencerna materi tentang madrasah ramah anak

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, semoga madrasah ramah anak bisa kita pahami dengan baik dan dapat terwujud di masa yang akan datang Aamiin 🙏🙏

    BalasHapus
  3. MasyaAllah...otak berselancar ke semua Madrasah, harapan semua orangtua dan guru semoga menjadi kenyataan

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama