Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ada kebiasaan kecil dalam ajaran Islam yang sebenarnya mengandung pendidikan yang sangat besar. Salah satunya ialah menutup pintu rumah sambil menyebut nama Allah. Secara lahiriah, tindakan ini tampak sederhana. Kita menutup pintu karena malam telah tiba, lalu mengucapkan bismillah. Akan tetapi, jika direnungkan, di dalam kebiasaan sederhana itu terdapat pendidikan tentang hubungan manusia dengan Allah, hubungan ikhtiar dengan tawakal, serta cara manusia memahami keterbatasan dirinya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عن جابر بن عبد الله،رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا
Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu syetan sedang berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka. Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah bismillah, karena sesungguhnya syetan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup.”
(HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012).
Hadis tersebut dapat dipahami sebagai ajaran tentang perlindungan. Tetapi perlindungan dalam Islam tidak berarti manusia boleh meninggalkan usaha. Justru hadis ini memperlihatkan bahwa manusia diperintahkan melakukan sesuatu yang konkret: anak-anak dijaga, pintu ditutup, kemudian nama Allah disebut.
Di sini terdapat prinsip penting. Manusia harus berusaha sesuai dengan kemampuan manusia, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Menutup pintu adalah pekerjaan manusia. Menjamin bahwa segala sesuatu yang mungkin terjadi tidak akan menimpa kita adalah wilayah kekuasaan Allah.
Karena itu, basmalah tidak boleh dipahami sebagai pengganti ikhtiar. Orang yang membaca bismillah tetapi tidak menutup pintu rumahnya bukan sedang bertawakal, melainkan sedang keliru memahami tawakal. Sebaliknya, orang yang memasang kunci terbaik, CCTV terbaik, pagar terbaik, tetapi merasa dirinya tidak membutuhkan Allah juga sedang mengalami kekeliruan yang lain.
Islam tidak mengajarkan manusia memilih antara usaha dan doa. Islam mengajarkan keduanya.
Hal ini penting dalam pendidikan. Pendidikan agama tidak cukup jika hanya membuat seseorang mengetahui bahwa membaca basmalah itu sunnah. Pendidikan agama harus sampai pada pembentukan cara berpikir dan cara hidup. Anak perlu dibiasakan memahami bahwa setiap tindakan manusia mempunyai hubungan dengan Allah.
Ketika anak menutup pintu sambil membaca bismillah, sesungguhnya ia sedang belajar satu pelajaran filsafat kehidupan: manusia terbatas, sedangkan Allah tidak terbatas.
Ia belajar bahwa dirinya harus melakukan sesuatu, tetapi ia juga belajar bahwa tidak semua hasil berada dalam kendalinya.
Persoalannya, manusia modern sering mempunyai kepercayaan yang sangat besar kepada kemampuan dirinya sendiri. Teknologi membuat manusia merasa mampu mengendalikan hampir segala sesuatu. Rumah dilengkapi alarm. Kendaraan dilengkapi sistem keamanan. Data disimpan di awan. Uang disimpan dalam sistem digital. Wajah dikenali oleh kamera. Tetapi semakin banyak alat keamanan yang kita miliki, semakin penting kita menyadari bahwa keamanan manusia pada akhirnya tidak pernah mutlak.
Di sinilah pendidikan tauhid mempunyai kedudukan yang penting. Tauhid mendidik manusia agar tidak menyandarkan seluruh keselamatan hidup kepada benda, teknologi, jabatan, kekayaan, atau kekuatan manusia.
Al-Qur'an mengatakan:
إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ, إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ
"Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah Swt."
Ayat ini memberi kita pengertian bahwa kekuatan setan bukanlah kekuatan yang mutlak. Ia menggoda manusia, tetapi manusia memiliki tanggung jawab terhadap pilihan hidupnya. Karena itu, iman bukan sekadar keyakinan di dalam pikiran. Iman harus menjadi kekuatan yang membentuk perilaku.
Rumah yang dijaga dengan basmalah adalah salah satu bentuk pendidikan iman yang praktis. Begitu pula membaca Ayat Kursi, berdzikir pagi dan petang, membaca Al-Qur'an, membaca Surat Al-Baqarah, serta membaca al-Mu'awwidzatain, yaitu Surat Al-Falaq dan An-Nas. Semua itu bukan sekadar ritual yang dihafalkan, tetapi latihan untuk membangun kesadaran bahwa manusia membutuhkan Allah dalam setiap keadaan.
Menariknya, pendidikan semacam ini dimulai dari hal-hal yang sangat kecil. Anak tidak perlu terlebih dahulu diajari teori tauhid yang rumit. Ia dapat diajari menutup pintu sambil mengucapkan bismillah. Dari kebiasaan kecil itu, perlahan ia belajar bahwa kehidupan mempunyai dimensi spiritual.
Namun ada satu hal yang lebih penting. Yang perlu kita tutup bukan hanya pintu rumah.
Kita juga perlu belajar menutup pintu hati dari iri, dengki, kesombongan dan kebencian. Kita perlu menutup pintu lisan dari fitnah. Kita perlu menutup pintu mata dari sesuatu yang merusak. Kita perlu menutup pintu pikiran dari prasangka yang tidak berdasar.
Jangan sampai pintu rumah kita terkunci rapat, tetapi pintu keburukan dalam diri kita justru terbuka lebar.
Dengan demikian, hadis tentang menutup pintu sebenarnya mengajarkan pendidikan yang sangat mendasar: manusia harus menjaga dirinya dengan ikhtiar, membangun kebiasaan baik, dan menyandarkan keselamatannya kepada Allah.
Kita menutup pintu dengan tangan. Kita menguncinya dengan kunci. Kita menyebut nama Allah dengan lisan. Tetapi yang paling penting, kita membuka hati kepada Allah.
Sebab rumah yang aman bukan hanya rumah yang pintunya tertutup, melainkan rumah yang di dalamnya tumbuh iman, ketenangan, kasih sayang, dan kesadaran bahwa Allah selalu menjadi tempat bergantung.
Mungkin kita sering lupa menutup pintu rumah. Tetapi jangan sampai kita lebih sering lupa menutup pintu hati.
_Wallahu 'alamu_

Posting Komentar