Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“ Seseorang berada di atas agama atau jalan hidup sahabat dekatnya. Maka hendaklah seseorang memperhatikan siapa yang menjadi sahabat dekatnya.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Manusia itu makhluk yang dapat dididik. Tetapi manusia juga makhluk yang mudah dipengaruhi. Ia belajar dari apa yang dilihatnya, dari apa yang didengarnya, dan terutama dari orang-orang yang hidup dekat dengannya. Karena itu, pendidikan manusia sebenarnya tidak hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan berlangsung sepanjang hidup.
Hadis Nabi ﷺ di atas mengingatkan kita pada satu hal yang sering kita lupakan: teman adalah pendidik.
Seorang teman mungkin tidak pernah mengatakan, “Saya sedang mendidik kamu.” Tetapi kebiasaan yang ia lakukan dapat menjadi pelajaran bagi kita. Jika kita berteman dengan orang yang senang membaca, kita dapat ikut tertarik membaca. Jika kita dekat dengan orang yang disiplin, kita dapat belajar menghargai waktu. Sebaliknya, jika kita terus-menerus bergaul dengan orang yang menganggap kebohongan sebagai sesuatu yang biasa, lama-kelamaan hati kita pun dapat kehilangan kepekaan terhadap kebohongan.
Inilah salah satu sifat manusia. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang di lingkungan kita dapat berubah dari sesuatu yang awalnya terasa asing menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Karena itu, lingkungan mempunyai kekuatan yang besar dalam membentuk manusia.
Kita sering mengatakan bahwa seseorang menjadi baik karena nasihat orang tuanya atau karena pendidikan gurunya. Itu benar. Tetapi ada satu unsur lain yang tidak kalah penting, yaitu teman bergaul.
Anak yang baik dapat berubah karena lingkungan pertemanannya. Orang yang dahulu rajin beribadah dapat menjadi lalai karena lingkungan. Sebaliknya, seseorang yang sebelumnya kurang memperhatikan agamanya dapat menjadi lebih baik karena bertemu dengan teman-teman yang baik.
Maka, memilih teman bukan persoalan kecil.
Memilih teman berarti memilih salah satu lingkungan yang akan ikut membentuk diri kita.
Dalam pendidikan, ada istilah pembiasaan. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang berlangsung lama akan membentuk karakter. Karakter kemudian memengaruhi tindakan seseorang.
Kalau demikian, kita dapat membuat sebuah rangkaian sederhana:
Teman memengaruhi kebiasaan.
Kebiasaan membentuk karakter.
Karakter menentukan banyak keputusan hidup kita.
Karena itu Nabi ﷺ tidak mengatakan sekadar, “Perhatikan siapa temanmu,” tetapi menggunakan kata khalil, yaitu teman dekat. Artinya, persoalannya bukan sekadar berapa banyak orang yang kita kenal. Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang paling dekat dengan kita dan paling banyak memengaruhi cara kita berpikir serta bertindak.
Di zaman sekarang persoalan ini menjadi semakin penting.
Dahulu lingkungan pergaulan terutama berada di rumah, sekolah, pesantren, kampus, tempat kerja, atau masyarakat. Sekarang lingkungan itu juga hadir melalui telepon genggam. Kita dapat bergaul dengan orang yang tidak pernah kita jumpai secara langsung.
Setiap hari kita membaca pendapat orang lain. Kita menonton perilaku mereka. Kita mendengar cara mereka berbicara. Kita menyaksikan apa yang mereka anggap lucu, apa yang mereka anggap benar, apa yang mereka anggap hebat, dan apa yang mereka anggap tidak penting.
Semua itu masuk ke dalam pikiran kita.
Karena itu, pertanyaan “siapa temanmu?” pada zaman sekarang dapat diperluas menjadi:
“Siapa yang setiap hari kamu biarkan memengaruhi pikiranmu?”
Pertanyaan ini penting karena manusia sering tidak sadar bahwa dirinya sedang dibentuk.
Kita merasa sedang memilih tontonan, padahal tontonan juga sedang membentuk selera kita.
Kita merasa sedang memilih bacaan, padahal bacaan juga sedang membentuk cara berpikir kita.
Kita merasa sedang memilih teman, padahal teman juga sedang ikut membentuk diri kita.
Maka seorang Muslim perlu memiliki kesadaran untuk memilih lingkungan yang baik.
Tetapi memilih teman yang baik tidak berarti kita harus membenci orang yang berbeda dari kita. Tidak demikian. Kita tetap harus berbuat baik kepada siapa pun. Kita dapat bekerja sama dengan banyak orang. Kita dapat menghormati siapa saja.
Yang perlu diperhatikan adalah siapa yang kita jadikan teman dekat, tempat berbagi pikiran, tempat menerima nasihat, dan tempat kita belajar tentang kehidupan.
Teman yang baik bukan selalu teman yang selalu membenarkan kita.
Kadang-kadang teman yang baik justru teman yang berani mengatakan, “Kamu keliru.”
Ia tidak membiarkan kita merasa benar ketika sebenarnya kita salah. Ia tidak ikut tertawa ketika kita menghina orang lain. Ia mengingatkan ketika kita mulai berlebihan. Ia mengajak kita kepada kebaikan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan contoh hidupnya.
Itulah teman yang sekaligus menjadi pendidik.
Karena itu, mari kita melihat kembali lingkungan pergaulan kita.
Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah pertemanan saya selama ini membuat saya menjadi manusia yang lebih baik?”
Apakah setelah berteman dengan mereka kita menjadi lebih sabar?
Lebih jujur?
Lebih rajin belajar?
Lebih bertanggung jawab?
Lebih menghargai orang lain?
Lebih dekat kepada Allah?
Jika jawabannya ya, pertahankanlah persahabatan itu.
Tetapi jika sebuah pertemanan justru membuat kita semakin jauh dari kebaikan, semakin mudah berbohong, semakin senang merendahkan orang lain, semakin malas beribadah, dan semakin kehilangan rasa malu terhadap dosa, mungkin kita perlu mengevaluasinya.
Sebab manusia memang memiliki kebebasan untuk memilih teman.
Tetapi setelah memilih, kita harus siap menerima pengaruhnya.
Itulah sebabnya Nabi ﷺ mengajarkan:
“فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ”
“Maka hendaklah setiap orang memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”
Hadis ini pada akhirnya bukan hanya nasihat tentang pertemanan. Ia adalah nasihat tentang pendidikan diri.
Sebab selama hidup, kita tidak pernah berhenti menjadi orang yang dididik.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Apakah saya masih belajar?”
Melainkan:
*_“Siapa yang sedang mendidik saya setiap hari?”_*
Dan jawaban atas pertanyaan itu sangat mungkin dapat ditemukan dari siapa orang-orang yang paling dekat dengan kita.
_Wallahu a'lam bish-shawab._

Posting Komentar