Mengubah Tata Tertib Menjadi Kesadaran: Pelajaran dari Guru PAI dalam Membimbing Emosi Remaja

 




Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Di banyak sekolah, pelanggaran tata tertib hampir selalu dipandang sebagai persoalan kedisiplinan. Siswa datang terlambat, tidak memakai atribut lengkap, membawa telepon genggam, atau membantah guru. Respons yang muncul pun sering seragam. Teguran, hukuman, hingga sanksi administratif. Padahal, di balik perilaku tersebut sering kali tersembunyi persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana remaja mengelola emosinya.


Temuan ini menarik karena muncul dari sebuah penelitian mengenai peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam mengarahkan respons emosional siswa terhadap peraturan sekolah di SMP Negeri 1 Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Penelitian yang dilakukan oleh Liese Noor Puspitasari dan Mulyawan Safwandy Nugraha  tersebut memperlihatkan bahwa persoalan tata tertib tidak cukup diselesaikan dengan memperketat aturan. Yang jauh lebih penting adalah membantu siswa memahami makna aturan dan membimbing mereka mengelola emosi ketika berhadapan dengan aturan tersebut.


Masa SMP merupakan periode yang tidak sederhana. Pada usia 12 sampai 15 tahun, remaja sedang berada dalam fase transisi menuju kedewasaan. Mereka ingin diakui, mulai mempertanyakan otoritas, lebih sensitif terhadap kritik, dan emosinya belum stabil. Karena itu, reaksi terhadap sebuah aturan tidak selalu berupa kepatuhan atau pelanggaran. Ada yang merasa malu ketika ditegur, ada yang kecewa, ada yang marah, bahkan ada yang membantah.


Melihat perilaku seperti ini hanya dari sudut pandang "anak nakal" merupakan penyederhanaan yang kurang tepat. Yang sedang berkembang bukan hanya kemampuan berpikir mereka, tetapi juga kemampuan mengendalikan emosi.

Penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian besar siswa sebenarnya memahami bahwa tata tertib dibuat untuk menciptakan lingkungan belajar yang tertib dan nyaman. Namun, beberapa aturan tetap menimbulkan keberatan. Larangan membawa telepon genggam, aturan penggunaan atribut, hingga disiplin waktu memunculkan respons emosional yang berbeda pada setiap siswa. Perbedaan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, hingga paparan media sosial.


Di sinilah letak pentingnya peran guru, terutama Guru Pendidikan Agama Islam.

Guru PAI dalam penelitian ini tidak sekadar menyampaikan materi tentang akhlak atau ibadah. Mereka hadir sebagai pembimbing yang berusaha memahami alasan di balik perilaku siswa. Ketika siswa melanggar aturan, pendekatan yang dipilih bukan langsung menghukum, melainkan mengajak berdialog, memberikan nasihat, mendengarkan persoalan yang dihadapi, dan menghubungkannya dengan nilai-nilai agama. Pendekatan seperti ini membuat siswa tidak merasa dipermalukan, tetapi merasa dibimbing untuk memperbaiki diri.


Pendekatan tersebut menunjukkan sesuatu yang sering terlupakan dalam praktik pendidikan. Disiplin yang bertahan lama tidak lahir dari rasa takut terhadap hukuman. Disiplin tumbuh ketika seseorang memahami alasan mengapa sebuah aturan perlu ditaati.


Pendidikan Agama Islam memiliki kekuatan pada aspek ini. Nilai tentang kesabaran, tanggung jawab, amanah, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap orang lain bukan sekadar materi pelajaran. Nilai tersebut menjadi dasar bagi siswa untuk memandang aturan sebagai bagian dari pembentukan karakter, bukan sebagai pembatas kebebasan.


Yang menarik, penelitian ini juga menemukan bahwa pembinaan karakter tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Program pembiasaan religius seperti membaca Al-Qur'an, tausiyah, salat dhuha, dan berbagai aktivitas keagamaan setiap pagi ternyata ikut membentuk suasana sekolah yang lebih kondusif. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut perlahan membangun kemampuan siswa mengendalikan diri dan menghargai aturan.


Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi dunia pendidikan Indonesia.

Selama ini, ukuran keberhasilan tata tertib sering hanya dihitung dari menurunnya jumlah pelanggaran. Padahal ukuran yang lebih penting adalah apakah siswa memahami nilai di balik aturan tersebut. Sekolah yang hanya mengandalkan hukuman mungkin berhasil menciptakan kepatuhan sesaat. Namun kepatuhan yang muncul karena rasa takut akan hilang ketika pengawasan berkurang.


Sebaliknya, sekolah yang mampu membangun kesadaran akan menghasilkan kepatuhan yang bertahan lebih lama. Siswa menaati aturan bukan karena takut kepada guru, melainkan karena memahami bahwa aturan tersebut baik bagi dirinya.


Tentu saja tugas ini tidak mudah. Penelitian juga menemukan berbagai tantangan yang dihadapi sekolah. Pengaruh media sosial semakin kuat. Pola asuh keluarga sangat beragam. Tidak semua orang tua menerapkan disiplin yang sama dengan sekolah. Bahkan, persepsi antar guru terhadap penerapan tata tertib pun kadang belum sepenuhnya seragam. Semua faktor tersebut memengaruhi cara siswa memandang aturan.


Karena itu, pembentukan karakter tidak dapat dibebankan hanya kepada Guru PAI. Kepala sekolah, guru mata pelajaran lain, guru BK, wali kelas, orang tua, bahkan lingkungan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama. Pendidikan karakter hanya berhasil apabila pesan yang diterima siswa konsisten di sekolah maupun di rumah.


Di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi, sekolah juga perlu memperluas cara pandangnya. Pendidikan karakter tidak cukup berisi ceramah tentang mana yang benar dan mana yang salah. Siswa perlu dilatih mengenali emosinya sendiri, mengelola kemarahan, menerima kritik, menyelesaikan konflik, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Kemampuan inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai regulasi emosi, dan penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut berkaitan erat dengan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah.


Inilah pesan paling penting dari penelitian tersebut. Aturan memang diperlukan, tetapi aturan saja tidak cukup. Yang lebih dibutuhkan adalah guru yang mampu menyentuh hati siswa, membimbing tanpa merendahkan, menegur tanpa melukai, dan mendidik tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.


Ketika sekolah berhasil mengubah tata tertib menjadi kesadaran, pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan siswa yang patuh di depan guru. Pendidikan akan melahirkan generasi yang mampu mengendalikan dirinya sendiri, menghargai orang lain, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan, bahkan ketika tidak ada lagi yang mengawasi. Itulah tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama