Refleksi
tentang Kurikulum Berbasis Cinta, Pendidikan Akhlak, dan Peran Orang Tua
"Saya percaya, pendidikan yang
paling membekas tidak selalu lahir dari pelajaran yang paling sulit, melainkan
dari percakapan sederhana yang membuat seorang anak merasa didengar, dihargai,
dan dicintai."
Oleh:
Ai Ida Rosdiana, M.Pd.
Pengajar
MA Sunanul Aulia Kota Sukabumi
Pengajar
MTs Islamiyah Sayang Cianjur
Tutor UPBJJ-UT Bogor Salut Badak Putih Cianjur
Pegiat Keluarga Peduli Pendidikan Kota/Kab. Sukabumi
Tidak
semua pelajaran dimulai ketika guru berdiri di depan kelas. Ada pelajaran yang
justru lahir dari percakapan sederhana seorang anak sepulang sekolah. Dari
cerita-cerita kecil itulah saya belajar bahwa pendidikan bukan sekadar
menyampaikan ilmu, tetapi membangun hubungan yang membuat anak merasa aman
untuk bertanya, didengar ketika bercerita, dan dibimbing ketika mulai mengenal
dunia di sekitarnya.
Awal
tahun ajaran baru selalu membawa pengalaman baru bagi setiap anak. Mereka
pulang dengan cerita tentang guru, suasana kelas, dan teman-teman yang baru
dikenal. Demikian pula sore itu. Seorang anak pulang dengan wajah penuh
semangat sambil menceritakan teman-teman barunya. Di tengah ceritanya, ia
berkata bahwa salah seorang temannya sudah mengenal pacaran dan terbiasa
bermain bersama teman laki-laki.
Beberapa
saat kemudian ia bertanya dengan polos,
"Bu,
apakah aku boleh berteman dengan anak yang seperti itu?"
Saya tersenyum. Bukan karena pertanyaannya
terdengar lucu, melainkan karena saya menyadari bahwa hari itu ia tidak sedang
bertanya tentang seorang teman. Ia sedang belajar memahami kehidupan. Ia sedang
mencoba mengenali mana yang menurutnya baik, mana yang membuatnya bingung, dan
kepada siapa ia dapat mencari jawaban. Lebih dari itu, ia memilih pulang dan
bertanya kepada orang yang ia percaya.
Saat
itulah saya belajar bahwa anak-anak tidak datang membawa teori. Mereka datang
membawa cerita. Di balik cerita sederhana itu tersimpan rasa ingin tahu,
kebingungan, bahkan harapan agar ada orang dewasa yang membantu mereka memahami
dunia. Mungkin karena itulah saya percaya bahwa pendidikan tidak selalu lahir
dari buku pelajaran atau ruang kelas. Pendidikan sering kali tumbuh dari
percakapan-percakapan kecil yang terjadi di rumah, di sekolah, atau di mana pun
anak merasa aman untuk didengar.
Saya
juga belajar bahwa menjadi orang tua tidak cukup hanya memberi aturan dan
nasihat. Ada saatnya ayah dan ibu perlu menjadi sahabat bertumbuh bagi
anak-anaknya. Bukan sahabat yang membenarkan semua keinginan mereka, tetapi
sahabat yang mau mendengar sebelum memberikan penjelasan. Sebab ketika anak
merasa didengar, mereka sedang belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman
untuk berpikir, bertanya, bahkan mengakui kebingungannya.
Barangkali,
pendidikan memang tidak selalu dimulai ketika kita berbicara. Pendidikan justru
dimulai ketika seorang anak merasa cukup aman untuk menceritakan apa yang
sedang dipikirkannya.
Pemikiran
sederhana itu kemudian membawa saya pada makna Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Bagi saya, KBC bukan sekadar pendekatan pembelajaran atau program pendidikan.
KBC adalah cara pandang yang mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak
hanya diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi juga dari
seberapa kuat hubungan yang dibangun antara guru, orang tua, dan anak.
Guru
sejatinya tidak hanya mengajar agar peserta didik memahami pelajaran, tetapi
juga hadir agar mereka merasa dipahami sebagai manusia yang sedang bertumbuh.
Begitu pula orang tua. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga
menjadi tempat pertama yang mengajarkan kepercayaan, kasih sayang, dan
penghargaan terhadap nilai-nilai kehidupan.
Di
tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, anak-anak mengenal
banyak hal jauh lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Mereka belajar dari
media sosial, tontonan, teman sebaya, bahkan percakapan yang mereka dengar
setiap hari. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar pendidikan bukan
lagi sekadar memberikan informasi, melainkan menghadirkan pendampingan.
Psikolog
John Bowlby menjelaskan bahwa hubungan emosional yang hangat antara anak dan
orang tua akan membangun rasa aman dalam diri anak. Sementara Albert Bandura
melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa anak belajar melalui pengamatan
terhadap lingkungan di sekitarnya. Apa yang mereka lihat setiap hari perlahan
akan menjadi kebiasaan, lalu berubah menjadi karakter. Karena itu, teladan
sering kali lebih berpengaruh daripada nasihat yang panjang.
Islam
telah lebih dahulu mengajarkan pentingnya mendidik dengan kasih sayang.
Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan para sahabat melalui perkataan, tetapi
juga melalui keteladanan, kelembutan, dan kesediaan mendengarkan. Dalam memilih
teman pun, beliau mengingatkan agar seseorang dekat dengan orang-orang yang
membawa pengaruh baik, sebagaimana perumpamaan penjual minyak wangi yang
memberikan keharuman kepada orang di sekitarnya. Pesan itu bukan mengajarkan
anak untuk menghakimi orang lain, melainkan mengajarkan kebijaksanaan dalam memilih
nilai yang akan dipegang sepanjang hidupnya.
Imam
Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati anak ibarat permata yang masih bersih. Apa
yang dibiasakan sejak kecil akan membentuk kepribadiannya ketika dewasa.
Sejalan dengan itu, Thomas Lickona menjelaskan bahwa karakter tumbuh ketika
seseorang mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, lalu membiasakan diri
melakukannya. Dalam Islam, ketiga unsur tersebut berpadu dalam akhlak yang
tercermin melalui perilaku sehari-hari.
Sebagai
guru maupun orang tua, kita tentu tidak mungkin mendampingi anak selama dua
puluh empat jam. Akan ada saat ketika mereka harus mengambil keputusan sendiri.
Karena itu, tugas kita bukan mengawasi setiap langkah mereka, melainkan
membekali mereka dengan akhlak yang akan menjadi penuntun ketika kita tidak
lagi berada di sampingnya.
Percakapan
sederhana pada sore itu akhirnya mengajarkan saya satu hal. Pertanyaan anak
tersebut ternyata bukan tentang seorang teman. Pertanyaan itu adalah undangan
bagi orang tua untuk hadir, mendengar, dan membimbing. Bukankah hal yang sama
juga diharapkan terjadi di sekolah? Bukankah guru pun ingin menjadi sosok yang
dipercaya peserta didiknya ketika mereka menghadapi kebingungan dalam hidup?
Rumah
adalah sekolah pertama yang mengajarkan anak untuk percaya. Sekolah adalah
rumah kedua yang menguatkan kepercayaan itu. Ketika keduanya dipertemukan oleh
kasih sayang, pendidikan tidak hanya melahirkan anak-anak yang cerdas, tetapi
juga manusia yang berakhlak, berempati, dan mampu menghargai sesamanya.
Barangkali,
tantangan terbesar pendidikan hari ini bukanlah bagaimana membuat anak memahami
semua pelajaran, melainkan bagaimana memastikan mereka tidak pernah kehilangan
keberanian untuk bercerita. Sebab selama anak masih pulang membawa cerita,
selama itu pula orang tua dan guru masih memiliki kesempatan untuk menanamkan
akhlak.
Mungkin
inilah makna terdalam dari Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan tidak selalu
dimulai ketika kita berbicara, tetapi ketika kita bersedia mendengar.
Karena
saya percaya, setiap percakapan adalah ruang belajar, dan setiap cerita anak
adalah kesempatan menanamkan akhlak.
"Tulisan
ini lahir dari sebuah keyakinan bahwa pendidikan terbaik sering kali dimulai
dari percakapan-percakapan sederhana yang kita pilih untuk benar-benar
mendengarkannya."
Posting Komentar