Ramadan H14 Tarawih Berbeda Rakaat, Mengapa Kita Masih Berdebat?

 


Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 254)



 

Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang sama hampir setiap tahun. Masjid penuh, saf rapat, anak-anak berlarian kecil di halaman, dan setelah itu muncul satu percakapan klasik: tarawihnya delapan atau dua puluh rakaat?

 

 

Perdebatan itu sering terdengar sepele, tetapi kadang berubah menjadi serius. Ada yang merasa praktiknya paling sesuai sunah. Ada pula yang merasa tradisi yang dijalankannya lebih kuat karena mengikuti para sahabat.

 

 

Padahal jika menengok sejarahnya, perbedaan jumlah rakaat tarawih justru sudah ada sejak masa awal Islam.

 

 

Riwayat dari Aisyah menyebutkan Nabi Muhammad melaksanakan qiyamul lail sebanyak sebelas rakaat. Banyak ulama memahami praktik ini sebagai delapan rakaat tarawih ditambah tiga rakaat witir.

 

 

Namun praktik lain berkembang pada masa para sahabat. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, beliau melihat jamaah di masjid salat malam secara sendiri-sendiri. Masjid ramai, tetapi tidak teratur. Umar kemudian mengambil keputusan penting: mengumpulkan mereka dalam satu jamaah.

 

 

Sejak saat itu, tarawih berjamaah dengan dua puluh rakaat menjadi praktik yang meluas di banyak wilayah Islam.

 

 

Artinya, sejak awal tradisi Islam sudah mengenal lebih dari satu cara dalam melaksanakan tarawih. Para ulama kemudian menyebut perbedaan ini sebagai ikhtilaf dalam wilayah cabang, bukan persoalan pokok.

 

 

Masalahnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Umat sering memindahkan perbedaan kecil ini ke wilayah yang terlalu serius. Rakaat menjadi bahan debat, sementara makna tarawihnya sendiri justru terlupakan.

 

 

Padahal tarawih seharusnya menjadi ruang latihan spiritual yang santai dan menenangkan. Bukan lomba cepat, bukan pula ajang menguji siapa paling benar.

 

 

Jika direnungkan lebih jauh, tarawih sebenarnya bukan sekadar soal angka rakaat. Ia adalah kesempatan langka dalam setahun ketika keluarga, anak-anak, dan masyarakat kembali akrab dengan masjid.

 

 

Di sanalah anak belajar berdiri dalam saf. Di sanalah orang dewasa belajar sabar dan khusyuk.

 

 

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “berapa rakaat tarawih kita?”, tetapi “seberapa dekat Ramadan ini membawa kita kembali ke masjid?”

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama