Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 254)
Ramadan selalu menghadirkan
pemandangan yang sama hampir setiap tahun. Masjid penuh, saf rapat, anak-anak
berlarian kecil di halaman, dan setelah itu muncul satu percakapan klasik:
tarawihnya delapan atau dua puluh rakaat?
Perdebatan itu sering
terdengar sepele, tetapi kadang berubah menjadi serius. Ada yang merasa
praktiknya paling sesuai sunah. Ada pula yang merasa tradisi yang dijalankannya
lebih kuat karena mengikuti para sahabat.
Padahal jika menengok
sejarahnya, perbedaan jumlah rakaat tarawih justru sudah ada sejak masa awal
Islam.
Riwayat dari Aisyah
menyebutkan Nabi Muhammad melaksanakan qiyamul lail sebanyak sebelas rakaat.
Banyak ulama memahami praktik ini sebagai delapan rakaat tarawih ditambah tiga
rakaat witir.
Namun praktik lain
berkembang pada masa para sahabat. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah,
beliau melihat jamaah di masjid salat malam secara sendiri-sendiri. Masjid
ramai, tetapi tidak teratur. Umar kemudian mengambil keputusan penting:
mengumpulkan mereka dalam satu jamaah.
Sejak saat itu, tarawih
berjamaah dengan dua puluh rakaat menjadi praktik yang meluas di banyak wilayah
Islam.
Artinya, sejak awal tradisi
Islam sudah mengenal lebih dari satu cara dalam melaksanakan tarawih. Para
ulama kemudian menyebut perbedaan ini sebagai ikhtilaf dalam wilayah cabang,
bukan persoalan pokok.
Masalahnya, yang sering
terjadi justru sebaliknya. Umat sering memindahkan perbedaan kecil ini ke
wilayah yang terlalu serius. Rakaat menjadi bahan debat, sementara makna
tarawihnya sendiri justru terlupakan.
Padahal tarawih seharusnya
menjadi ruang latihan spiritual yang santai dan menenangkan. Bukan lomba cepat,
bukan pula ajang menguji siapa paling benar.
Jika direnungkan lebih
jauh, tarawih sebenarnya bukan sekadar soal angka rakaat. Ia adalah kesempatan
langka dalam setahun ketika keluarga, anak-anak, dan masyarakat kembali akrab
dengan masjid.
Di sanalah anak belajar
berdiri dalam saf. Di sanalah orang dewasa belajar sabar dan khusyuk.
Mungkin pertanyaan yang
lebih penting bukan lagi “berapa rakaat tarawih kita?”, tetapi “seberapa dekat
Ramadan ini membawa kita kembali ke masjid?”
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

إرسال تعليق