Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 239)
Pernyataan kocak datang
dari akun Instagram Sigit Sugiana
yang menyebut menu MBG di bulan puasa cukup telur, abon, dan kurma karena “bisa
tahan sampai buka puasa.” Sekilas terdengar sederhana. Bahkan mungkin dimaksudkan
sebagai solusi praktis. Tapi benarkah sesederhana itu?
Puasa bukan sekadar menahan
lapar. Ia juga tentang menjaga energi, kesehatan, dan martabat. Menganggap
telur rebus dan abon cukup untuk “bertahan” seharian terdengar seperti logika
bertahan hidup, bukan logika kebijakan publik. Kalau sekadar ingin tahan lama,
sekalian saja tambahkan nastar atau kue salju. Bukan hanya tahan sampai buka,
mungkin bisa sampai Lebaran.
Masalahnya bukan pada
telurnya. Telur itu bergizi. Abon juga sumber protein. Kurma bahkan sunnah dan
bernilai nutrisi tinggi. Namun ketika pernyataan itu disampaikan dalam konteks
program makan bergizi (MBG), publik wajar bertanya: apakah orientasinya sekadar
membuat anak tidak lapar, atau benar-benar memastikan kebutuhan gizi terpenuhi?
Ada yang menyela, “Jangan
pukul rata, tidak semua orang mampu makan enak.” Betul. Tapi bukankah kebijakan
publik juga tak boleh memukul rata dengan standar minimal yang sama untuk
semua? Jika tujuannya membantu yang kurang mampu, desainnya harus berbasis kebutuhan,
bukan asumsi bahwa semua cukup dengan paket sederhana.
Saya yakin, di bulan puasa,
banyak orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya saat berbuka.
Minimal ada sayur hangat, lauk, atau makanan kesukaan. Bukan telur rebus dan
abon setiap hari. Puasa adalah momen istimewa, bukan sekadar hari biasa yang
ditekan seminimal mungkin.
Solusinya? Pertama,
libatkan ahli gizi dalam menentukan menu MBG selama Ramadan. Kedua,
transparansi standar nilai gizi agar publik tahu dasar kebijakannya. Ketiga,
fleksibilitas berbasis kondisi daerah dan daya beli.
Karena kebijakan yang baik
bukan sekadar membuat orang “tahan lapar”, tapi membuat mereka tetap sehat,
dihargai, dan diperlakukan adil.
Posting Komentar