Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 235)
Sebuah video sederhana
mendadak ramai di media sosial. Seorang anak SD kelas 2 dengan polosnya
mengusulkan agar program MBG diganti uang tunai Rp15 ribu. Alasannya sederhana
tapi menggelitik: untuk membeli takjil saat Ramadan, lalu sisanya ditabung demi
membeli baju Lebaran. Tayangan itu sudah ditonton sekitar 15 ribu viewers dan
memantik diskusi hangat.
Kita tahu, MBG selama ini
dipahami publik sebagai program makan bergizi gratis yang dirancang pemerintah
untuk mendukung kecukupan gizi anak-anak. Tujuannya jelas: memastikan siswa
mendapatkan asupan sehat dan seimbang, bukan sekadar uang jajan. Namun, dari
sudut pandang anak kecil, logikanya juga terasa jujur. Ia melihat kebutuhan yang
dekat dengan kesehariannya takjil dan baju Lebaran sesuatu
yang konkret, terasa, dan membahagiakan.
Apakah ide itu logis?
Secara emosional, iya. Anak tersebut sedang belajar mengelola prioritas:
membeli yang perlu, lalu menabung untuk keinginan yang lebih besar. Itu
cerminan literasi finansial sederhana yang justru patut diapresiasi. Namun
secara kebijakan publik, tentu tidak sesederhana itu. Program gizi tidak hanya
soal nilai rupiah, melainkan soal kontrol kualitas, pemerataan, dan pencegahan
stunting. Jika diganti uang tunai, belum tentu dibelanjakan untuk makanan
sehat.
Di sinilah menariknya.
Suara polos seorang bocah mampu membuka ruang dialog tentang efektivitas
program, fleksibilitas bantuan, dan aspirasi masyarakat kecil. Pemerintah tentu
punya pertimbangan matang, tetapi masukan seperti ini menunjukkan bahwa
kebijakan selalu bisa ditinjau ulang agar lebih adaptif.
Setuju atau tidak dengan
ide anak kelas 2 tersebut? Logis atau kurang tepat? Yuk, silakan voting dan
suarakan pendapat Anda. Siapa tahu, dari suara warganet, lahir kebijakan yang
lebih responsif dan membumi.
Posting Komentar