Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 238)
Ramadan selalu menghadirkan
satu pertanyaan klasik: mengapa awal puasa bisa berbeda, tetapi Lebaran sering
kali sama? Tahun ini, kemungkinan itu kembali terjadi. Muhammadiyah sudah lebih
dulu menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari, sementara pemerintah diperkirakan
memulai puasa pada 19 Februari. Namun untuk Idul Fitri, keduanya berpeluang
jatuh di tanggal yang sama.
Perbedaan ini bukan soal
siapa yang paling benar. Ini soal metode. Muhammadiyah menggunakan hisab, yaitu
perhitungan astronomi. Dengan pendekatan ini, posisi bulan bisa dihitung jauh
hari sebelum Ramadan tiba. Kalender pun dapat disusun lebih awal tanpa menunggu
pengamatan langsung.
Sebaliknya, pemerintah
menggunakan rukyat, yaitu melihat hilal secara langsung saat magrib. Jika hilal
terlihat dan memenuhi kriteria tinggi serta jarak sudut tertentu dari matahari,
maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Jika tidak terlihat maka bulan digenapkan menjadi 30 hari.
Kunci perbedaan tahun ini
ada pada waktu ijtima, yaitu saat bulan dan matahari sejajar. Ijtima terjadi
malam hari, sehingga saat magrib di Indonesia hilal belum mungkin terlihat.
Karena pemerintah memakai referensi wilayah Indonesia, awal puasa diperkirakan
mundur satu hari. Sementara Muhammadiyah kini menggunakan pendekatan global.
Jika di wilayah paling barat bumi hilal memenuhi syarat, maka seluruh dunia
bisa memulai puasa.
Menariknya, menjelang
Syawal, posisi bulan saat magrib sudah cukup tinggi dan memenuhi kriteria kedua
metode. Karena itu, Idul Fitri berpeluang sama.
Dari sini kita belajar
bahwa perbedaan bukanlah konflik, melainkan konsekuensi logis dari cara pandang
yang berbeda. Sains berbicara melalui data, sementara keputusan keagamaan
mengikuti sistem yang disepakati. Yang terpenting, esensi Ramadan tetap sama:
menahan diri, memperbaiki hati, dan memperkuat persaudaraan meski
tanggal mulai bisa berbeda.

Posting Komentar