Ramadan, Ibu Lelah, dan Jalan Pulang

 


Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 242)



 

Ramadan sering dibayangkan sebagai bulan penuh cahaya, tenang, dan khusyuk. Namun bagi sebagian ibu dengan anak-anak yang masih kecil, Ramadan justru terasa seperti ujian fisik dan mental yang berlapis. Kurang tidur karena anak sakit, tubuh melemah, pikiran tak jernih, sementara hati ingin tetap produktif dan “maksimal” beribadah. Di titik itulah banyak ibu diam-diam merasa bersalah.

 

 

Padahal, rasa lelah bukan dosa.

 

 

Kita sering terjebak pada standar ideal: Ramadan harus lebih giat, harus berdagang lebih semangat, harus lebih produktif. Padahal setiap fase hidup memiliki kapasitasnya sendiri. Ketika anak sedang dalam masa pemulihan dan tubuh kekurangan istirahat, yang paling utama bukan ambisi tambahan, melainkan menjaga yang sudah Allah titipkan.

 

 

Ada kalanya jihad seorang ibu bukan di pasar, bukan di luar rumah, tetapi di kamar anak yang sedang demam.

 

 

Bersikap kritis pada diri sendiri itu perlu, namun jangan sampai berubah menjadi kejam. Tidak semua peluang harus diambil hari ini. Tidak semua rezeki harus dijemput dengan cara yang sama. Ramadan juga mengajarkan keseimbangan: antara semangat dan kesadaran batas diri.

 

 

Merawat anak yang sakit, bangun sahur dalam keadaan lelah, tetap memilih sabar saat emosi menipis itu ibadah yang sunyi tapi bernilai tinggi. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Maka jika ujian ini hadir, artinya kemampuan untuk melewatinya pun ada.

 

 

Solusinya bukan memaksa diri, melainkan menata ulang prioritas. Pulihkan tubuh. Tenangkan hati. Fokus pada kesehatan keluarga. Setelah fase berat berlalu, peluang akan terbuka kembal mungkin dengan cara yang lebih ramah bagi keadaan.

 

 

Ramadan bukan tentang siapa paling kuat, tetapi siapa paling tulus. Dan kadang, ketulusan itu lahir dari air mata yang memilih berdamai.

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama