Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 243)
Ada satu kata dalam Al-Baqarah
183 yang sering kita baca, tetapi jarang kita renungkan secara serius: kutiba.
Dalam struktur bahasa Arab, kata ini berbentuk pasif, mabni majhul. Artinya
tegas puasa itu sudah ditetapkan. Bukan opsi, bukan ruang negosiasi,
apalagi bahan tawar-menawar spiritual.
Di sinilah banyak orang keliru
memulai. Puasa sering diposisikan sebagai beban fisik, bukan keputusan iman.
Akibatnya, yang muncul lebih dulu adalah keluhan: lapar, lelah, mengantuk.
Padahal Al-Qur’an sejak awal sudah memberi “kerangka berpikir” yang berbeda.
Kutiba seakan berkata: kerjakan saja, terima saja, lalu tata niatmu.
Menariknya, ayat itu tidak
berhenti di situ. Allah menambahkan kama kutiba ‘alalladzina min qablikum.
Pesannya halus tapi kuat: kamu tidak sendirian. Umat sebelum kamu juga
menjalani hal yang sama. Ini seperti terapi psikologis Qur’ani mengurangi
rasa berat dengan memperluas perspektif.
Secara psikologis, ini sangat
relevan. Banyak riset menunjukkan bahwa beban terasa berat bukan semata karena
tugasnya, tetapi karena cara kita memaknainya. Ketika sesuatu diterima dengan
ikhlas dan tujuan jelas, energi mental justru lebih stabil. Puasa pun demikian.
Hadis tentang dua kegembiraan
orang berpuasa memperkuat logika ini. Ada bahagia saat berbuka, ada bahagia
saat bertemu Allah kelak. Artinya, puasa sejak awal memang dirancang bukan
sebagai ritual suram, tetapi perjalanan yang punya titik-titik cahaya.
Maka mungkin yang perlu kita
perbaiki bukan kuatnya fisik, tetapi cara pandang. Selama puasa masih kita
hadapi dengan mental terpaksa, ia akan terasa panjang. Tetapi ketika niat sudah
lurus mengubah lelah menjadi lillah yang berat bisa terasa
ringan.
Ramadan akhirnya bukan soal kuat
menahan lapar, tetapi seberapa siap hati untuk berkata: saya jalani.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

إرسال تعليق