Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 237)
Ramadan selalu datang
dengan suasana berbeda. Spanduk terpasang, lampu hias menyala, jadwal imsakiyah
tersebar di grup WhatsApp. Tahrib terasa meriah. Namun pertanyaannya, apakah
semarak itu sebanding dengan kesiapan hati?
Sering kali kita sibuk
membersihkan rumah, tetapi lupa membersihkan niat. Padahal inti menyambut
Ramadan bukan pada ornamen, melainkan orientasi. Bulan suci bukan panggung
seremonial, melainkan ruang pembenahan diri. Jika hati masih dipenuhi iri,
amarah, dan keluhan, maka puasa hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa
transformasi.
Menyiapkan hati berarti
berani mengevaluasi diri. Apa yang masih perlu diperbaiki? Siapa yang perlu
kita maafkan? Apa kebiasaan yang harus dihentikan sebelum Ramadan benar-benar
tiba? Tanpa langkah ini, ibadah berisiko menjadi formalitas.
Selain hati, ritme ibadah
juga perlu ditata. Ramadan bukan bulan kelelahan, melainkan bulan keteraturan.
Banyak orang semangat di awal, lalu melemah di pertengahan. Masalahnya bukan
pada niat, tetapi pada manajemen waktu. Jika sejak awal kita sudah merancang
pola tidur, waktu tadarus, dan target sedekah, maka energi ibadah akan lebih
stabil hingga akhir.
Yang tak kalah penting
adalah persiapan berbagi. Ramadan identik dengan zakat dan sedekah, tetapi
berbagi bukan hanya soal nominal. Ia tentang empati yang direncanakan, bukan
spontanitas sesaat. Menyisihkan anggaran sejak sebelum Ramadan adalah bentuk
keseriusan, bukan sekadar respons emosional menjelang Idulfitri.
Sudut pandang ini mungkin
terasa berbeda. Kita terbiasa menyambut Ramadan dengan simbol, bukan sistem.
Padahal bulan suci menuntut kesiapan yang lebih dalam: hati yang bersih, ritme
yang rapi, dan tangan yang ringan memberi.
Ramadan semakin dekat.
Pertanyaannya sederhana: apakah yang kita siapkan hanya dekorasi, atau juga transformasi?

إرسال تعليق