Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha*
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” Firman dalam Al-Qur’an surat ar-Ra’d ayat 11 itu seperti cermin yang tidak pernah berdebu. Kita sering sibuk menunjuk keadaan, sistem, pemimpin, bahkan takdir. Padahal ayat itu menaruh pusat perubahan di dalam diri. Bukan di luar. Perubahan bukan proyek sosial dulu, melainkan proyek batin. Bukan dimulai dari gaduh, tetapi dari jujur pada diri sendiri. Maka setiap Ramadhan, Allah seperti mengundang kita masuk ke ruang kelas sunyi. Di sana tidak ada sorotan kamera. Hanya ada kita dan Dia.
Ramadhan bukan sekadar kalender ritual. Ia adalah inisiatif perubahan. Initiative for change, kata orang sekarang. Tetapi Al-Qur’an sudah lebih dulu mengajarkan itu. Dalam surat Al-Baqarah ayat 183, Allah menegaskan bahwa puasa diwajibkan agar kita bertakwa. Bukan agar kita lapar. Bukan agar kita kurus. Bukan pula agar kita terlihat religius. Tujuannya jelas, la’allakum tattaqun. Supaya kita menjadi manusia yang memiliki kesadaran tinggi terhadap Allah. Taqwa itu bukan simbol. Ia adalah kualitas batin yang membuat seseorang jujur meski tidak diawasi.
Kalau begitu, Ramadhan adalah madrasah ilahiyah. Sekolah langsung dari Allah. Di madrasah ini tidak ada ranking yang diumumkan. Tidak ada ijazah yang dibingkai. Tetapi ada perubahan karakter. Ada pembiasaan diri. Ada pelurusan niat. Kita dididik menjadi manusia yang lebih terkendali. Lebih peka. Lebih bersih. Lapar dan haus hanyalah metode. Intinya adalah latihan kesadaran. Allah sedang mengajari kita menata ulang sistem internal.
Masuk ke madrasah ini ada syaratnya. Nabi Muhammad SAW bersabda, siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Iman dan ihtisab. Dua kata yang sederhana, tetapi dalam. Iman berarti yakin sepenuhnya bahwa Allah benar-benar memerintahkan puasa. Yakin bahwa Allah mengawasi. Yakin bahwa Allah membalas. Tanpa iman, puasa hanya menjadi diet spiritual. Dengan iman, puasa menjadi dialog rahasia antara hamba dan Tuhannya.
Lalu ihtisab. Ini sering kita dengar, tetapi jarang kita dalami. Ihtisab berarti kesadaran yang terprogram. Ada niat, ada rencana, ada kesungguhan. Bukan asal jalan. Seperti orang yang ingin panen, ia menyiapkan benih, tanah, dan waktu. Ia tidak menunggu keajaiban turun dari langit tanpa usaha. Maka puasa yang ihtisab adalah puasa yang dirancang. Kita tahu apa yang ingin kita ubah. Kita tahu kebiasaan apa yang ingin kita hentikan. Kita tahu ibadah apa yang ingin kita tambah.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita perlu analisis IPOOG. Input, Proses, Output, Outcome, Goal. Inputnya orang beriman. Prosesnya shaum. Outputnya taqwa. Outcomenya bersih dari dosa. Goal akhirnya surga. Ini bukan sekadar bagan manajemen. Ini peta perjalanan ruhani. Kalau inputnya lemah, prosesnya asal-asalan, jangan heran kalau outputnya tidak jelas. Allah sudah memberi sistem. Tinggal kita mau serius atau tidak.
Kuncinya ada pada taqwa. Taqwa bukan hanya takut. Ia adalah kesadaran untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Taqwa membuat kita menolak ghibah meski obrolan sedang seru. Taqwa membuat kita berhenti dari dusta meski tidak ada yang tahu. Maka Ramadhan adalah waktu terbaik untuk meng-install amal dan meng-delete dosa. Kita pasang shalat berjamaah. Kita pasang qiyamullail. Kita pasang sedekah. Lalu kita hapus kebiasaan mencaci. Kita hapus amarah. Kita hapus perbuatan sia-sia.
Agar tidak hanya menjadi wacana, kita perlu langkah konkret. Plan, Prepare, Do, Celebrate, Keep it up. Rencanakan dulu. Tulis ibadah apa yang akan Anda lakukan. Tulis kebiasaan buruk apa yang akan Anda tinggalkan. Jangan hanya niat di kepala. Kepala sering lupa. Kertas lebih jujur. Setelah itu siapkan diri. Pelajari fiqh puasa. Uji coba di bulan Sya’ban. Jangan menunggu Ramadhan datang lalu kaget sendiri.
Pada siang hari, jadikan waktu sebagai sahabat. Shalat Subuh berjamaah. Dzikir hingga isyraq. Bekerja atau belajar dengan niat ibadah. Shalat Dhuha. Jaga lisan dari ghibah dan dusta. Shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah. Sisihkan sedekah. Baca Al-Qur’an. Shalawat. Semua itu bukan sekadar daftar aktivitas. Ia adalah latihan konsistensi. Kita sedang membentuk ritme hidup yang baru. Ramadhan mengajarkan disiplin tanpa teriak-teriak.
Malam hari pun demikian. Buka puasa dengan syukur. Shalat Maghrib dan Isya berjamaah. Tarawih. Tilawah. Istighfar. Shalat malam. Sahur dengan kesadaran, bukan sekadar kenyang. Malam Ramadhan adalah ruang sunyi untuk bercermin. Di sana kita melihat dosa yang mungkin selama ini kita abaikan. Kita meneteskan air mata yang mungkin sudah lama tertahan. Malam adalah laboratorium hati.
Namun semua itu tidak berarti jika tidak ada keikhlasan. Ikhlaskan niat. Laksanakan rencana dengan sungguh-sungguh. Aktivitas dunia seperti bekerja dan belajar pun diniatkan sebagai ibadah. Cak Nun sering mengingatkan bahwa hidup ini bukan soal besar kecilnya peran, tetapi soal kesadaran dalam menjalaninya. Orang bisa saja berpuasa, tetapi hatinya tetap penuh iri. Orang bisa tarawih setiap malam, tetapi lisannya tetap menyakiti. Di situlah pentingnya muhasabah.
Ketika Idul Fitri tiba, rayakan sebagai tanda syukur. Bukan sekadar baju baru atau foto keluarga. Rayakan karena Anda berhasil mengalahkan diri sendiri. Jika Ramadhan dijalani dengan iman dan ihtisab, kita keluar sebagai manusia yang lebih bersih. Seperti bayi yang baru lahir, kata Nabi. Tetapi kebersihan itu harus dijaga. Jangan sampai hanya bertahan sehari. Jangan sampai takwa hanya menjadi tamu musiman.
Karena itu ada post test. Ulangi amaliah Ramadhan di awal Syawal. Lanjutkan shalat malam meski singkat. Lanjutkan sedekah meski kecil. Lanjutkan tilawah meski satu halaman. Konsistensi lebih penting daripada ledakan sesaat. Allah tidak menilai banyaknya, tetapi keberlanjutannya. Taqwa tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dijaga.
At least, perubahan yang kita harapkan dari bangsa ini, dari umat ini, dari keluarga ini, bermula dari perubahan diri. Ayat dalam surat ar-Ra’d itu kembali mengetuk. Jangan menunggu orang lain berubah dulu. Mulailah dari diri sendiri. Ramadhan adalah momentum. Madrasah sudah dibuka. Kurikulum sudah jelas. Evaluasi sudah menanti. Tinggal kita, mau sungguh-sungguh atau hanya lewat saja. Jika kita berani mengubah diri, Allah akan mengubah keadaan kita. Dan di situlah rahasia taqwa menemukan maknanya.
*) Ketua Umum Agerlip PGM Indonesia; Direktur Research and Literacy Institute; Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Ketua Forum Ukhuwah Warga Ciaul (FUWARCI); Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi; Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi, Penulis, Editor dan Reviewer pada Jurnal Ilmiah Bereputasi.
إرسال تعليق