Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 240)
Ramadan hari pertama selalu terasa istimewa. Masjid lebih ramai,
linimasa media sosial penuh ucapan selamat, dan niat terasa lebih segar dari
biasanya.
Namun di balik semangat H1 itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita
ajukan secara jujur: apakah satu Ramadan cukup untuk mengubah kita menjadi
pribadi bertakwa?
Puasa sering dipahami sebagai target 30 hari. Padahal, Al-Qur’an dalam
Surah Al-Baqarah ayat 183 menegaskan bahwa tujuan akhirnya adalah takwa.
Artinya, puasa bukan garis finis. Ia adalah proses pembentukan.
Di hari pertama, kita menahan lapar dan dahaga. Tapi sejatinya yang
sedang dilatih adalah kendali diri. Kita belajar menunda keinginan, menahan
emosi, dan mengatur respons. Ini bukan latihan ringan. Apalagi instan.
Takwa tidak lahir dari euforia H1. Ia tumbuh dari konsistensi. Dari
bangun sahur meski mengantuk. Dari memilih diam saat emosi memuncak. Dari tetap
jujur meski tak ada yang melihat. Puasa mempersempit ruang pelanggaran dan
memperluas ruang kesadaran.
Masalahnya, kita sering terjebak pada simbol, bukan substansi. Fokus
pada menu berbuka, bukan pada perbaikan perilaku. Semangat di awal, melemah di
tengah, lalu kembali biasa setelah Syawal. Jika polanya berulang setiap tahun,
wajar jika perubahan terasa lambat.
Ramadan seharusnya dipahami sebagai laboratorium karakter. Tiga puluh
hari adalah masa uji coba. Setelah itu, hasilnya terlihat dalam sebelas bulan
berikutnya. Apakah disiplin bertahan? Apakah kepedulian meningkat? Apakah lisan
lebih terjaga?
Ramadan H1 bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar hari ini. Ia
tentang seberapa siap kita menjalani proses panjang menjadi pribadi yang lebih
sadar, lebih jujur, dan lebih bertanggung jawab.
Karena takwa bukan hadiah satu musim. Ia adalah hasil dari perjalanan
yang terus diperbarui, setiap Ramadan, setiap tahun.
Sumber:
youtube Kemdikdasmen

إرسال تعليق