Ramadan H3: Menjawab Panggilan Puasa dengan Mental Siap

 

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 241)



 

Setiap Ramadan datang, yang berubah bukan hanya jadwal makan, tetapi juga cara kita memandang ibadah puasa. Banyak orang sibuk menyiapkan menu sahur, stok kurma, atau target khatam Al-Qur’an. Namun satu hal yang sering luput justru yang paling menentukan: kesiapan mental.

 

 

Surah Al-Baqarah ayat 183 dibuka dengan seruan ya ayyuhalladzina amanu. Ini bukan sekadar sapaan biasa. Ia adalah panggilan khusus kepada orang beriman. Artinya, puasa sejak awal memang ditujukan kepada mereka yang siap secara batin, bukan sekadar hadir secara fisik.

 

 

Dari sudut ini, puasa seharusnya tidak dipersepsi sebagai beban tahunan. Ia adalah undangan kehormatan. Ibarat pengumuman boarding di bandara, hanya penumpang yang memiliki tiket yang akan bergerak mendekat ke pintu keberangkatan. Demikian pula Ramadan: yang bergerak lebih dulu adalah iman.

 

 

Masalahnya, banyak dari kita datang ke Ramadan dalam kondisi “mental kaget”. Pola hidup masih berantakan, ritme ibadah belum dipanaskan, tetapi berharap puasa langsung terasa ringan. Di sinilah pentingnya membaca ulang makna niat.

 

 

Niat bukan hanya kalimat yang diucapkan sebelum sahur. Ia adalah proses menyetel ulang arah hati. Ketika niat sudah matang, tubuh biasanya lebih mudah mengikuti. Sebaliknya, tanpa kesiapan mental, bahkan hari pertama puasa pun bisa terasa panjang.

 

 

Secara psikologis, puasa memang menuntut disiplin tinggi. Kita menahan yang halal dalam kondisi tetap bekerja, berpikir, dan berinteraksi seperti biasa. Karena itu, latihan kecil sebelum Ramadan seperti puasa sunnah, mengurangi konsumsi berlebihan, dan membiasakan bangun lebih awal bukan ritual tambahan, melainkan strategi mental.

 

 

Ramadan pada akhirnya bukan ujian kuat-lemahnya fisik, tetapi jernih-tidaknya kesiapan batin. Jika iman sudah menjawab panggilan, puasa bukan lagi terasa berat. Ia justru menjadi ruang pulang yang menenangkan.

 


Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

Post a Comment

أحدث أقدم