Rapor, Anak, dan Kesalahan Orang Tua

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 223)



Musim pembagian rapor selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi penanda usaha anak selama satu semester. Di sisi lain, rapor sering berubah menjadi sumber ketegangan di rumah. Banyak orang tua masih memandang angka sebagai vonis, seolah nilai rapor adalah cermin utuh kecerdasan dan masa depan anak.

 

 

Padahal, rapor bukan kitab suci yang menentukan nasib seseorang.

 

 

Di ruang kelas, guru melihat hal yang sering luput dari mata orang tua. Ada anak yang nilainya biasa saja, tetapi disiplin, jujur, dan mau berusaha. Ada pula yang tidak menonjol secara akademik, namun memiliki empati, kepemimpinan, atau kreativitas yang kuat. Sayangnya, semua potensi itu sering kalah oleh satu pertanyaan klasik: “Kok nilaimu segini?”

 

 

Kesalahan orang tua sering dimulai dari kebiasaan membandingkan. Anak tetangga, anak teman kantor, bahkan anak saudara sendiri dijadikan tolok ukur. Perbandingan ini pelan-pelan merampas kepercayaan diri anak. Ia belajar bahwa dirinya hanya berharga jika angkanya lebih tinggi dari orang lain. Bukan karena usahanya, bukan karena proses belajarnya.

 

 

Yang jarang disadari, setiap anak membawa bekal yang berbeda sejak lahir. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang butuh waktu lebih lama. Ada yang unggul di kelas, ada yang justru bersinar di luar kelas. Dunia nyata sudah lama membuktikan bahwa kecerdasan tidak tunggal. Sekolah hanya salah satu pintu, bukan satu-satunya jalan.

 

 

Lebih ironis lagi, orang tua kerap lupa bertanya hal paling penting: apakah anak sudah berusaha? Apakah ia datang ke sekolah dengan niat belajar? Apakah ia masih mau mendengarkan guru dan menghormati orang tuanya? Jika jawabannya iya, seharusnya rapor menjadi alat evaluasi, bukan palu penghakiman.

 

 

Rapor semestinya membuka dialog, bukan menutup harapan. Orang tua dan anak duduk bersama, membaca angka, lalu membicarakan proses. Di mana kesulitannya, apa yang perlu dibantu, dan bagaimana sekolah serta rumah bisa saling menguatkan. Bukan siapa yang paling tinggi nilainya, tetapi siapa yang paling konsisten bertumbuh.

 

 

Pada akhirnya, rapor tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara kita memaknainya. Ketika orang tua mampu menahan ego, berhenti membandingkan, dan mulai mendampingi, anak belajar satu hal penting: bahwa dirinya diterima apa adanya. Dari situlah keberanian untuk belajar, gagal, dan bangkit justru lahir.

 

 


Post a Comment

أحدث أقدم