Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 231)
Pendidikan selalu dipuja
sebagai jalan panjang menuju masa depan bangsa. Hampir setiap pidato pejabat
menyebut guru sebagai kunci peradaban, penentu kualitas generasi, dan pilar
Indonesia Emas 2045. Tetapi di balik pujian itu, ada kenyataan yang jarang
dibicarakan dengan jujur: banyak guru di negeri ini masih hidup dengan
penghasilan yang tidak layak, bahkan kalah dari uang jajan siswanya sendiri.
Ini bukan kisah satu dua
orang. Guru honorer dan non-ASN di banyak daerah masih digaji jauh di bawah
standar hidup layak. Ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah per bulan, ada
pula yang bertahun-tahun mengabdi dengan gaji yang nyaris tak cukup untuk
sekadar bertahan. Ironisnya, beban kerja mereka sama beratnya dengan guru ASN.
Mengajar, menyiapkan administrasi, mengisi laporan digital, hingga mengikuti berbagai
program tambahan menjadi rutinitas harian yang tak bisa ditawar.
Di saat yang sama, negara
justru terlihat sangat bersemangat membangun program-program besar. Anggaran
pendidikan terus naik, tetapi sebagian besar terserap ke pos-pos yang tidak
langsung menyentuh kesejahteraan guru. Program baru datang silih berganti,
dikemas dengan jargon perubahan dan janji dampak besar. Sayangnya, fondasi
utamanya, yakni guru, masih dibiarkan rapuh.
Paradoks ini semakin terasa
ketika kita bicara tentang tunjangan profesi guru. Alih-alih menjadi penguat
kesejahteraan, tunjangan sering berubah menjadi sumber ketidakpastian. Validasi
data, sinkronisasi sistem, dan berbagai syarat administratif membuat pencairan
kerap terlambat dan tidak serentak. Guru akhirnya bukan fokus pada kualitas
mengajar, melainkan sibuk memastikan datanya “aman” di sistem.
Jika guru terus berada
dalam kondisi seperti ini, dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Motivasi
mengajar menurun, konsentrasi terpecah, dan kualitas pembelajaran sulit
meningkat. Banyak guru di Indonesia tercinta ini yang terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi memenuhi kebutuhan hidup. Pada
titik ini, pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses memanusiakan manusia.
Pertanyaannya kemudian
menjadi sangat mendasar: sebenarnya siapa yang sedang kita bangun? Masa depan
anak-anak atau sekadar etalase kebijakan? Program sebesar apa pun tidak akan
berarti tanpa guru yang sejahtera. Pembangunan pendidikan seharusnya dimulai
dari memastikan mereka yang memegang kunci masa depan bangsa bisa hidup dengan
layak, bukan sekadar bertahan dengan keikhlasan.

Posting Komentar