Oleh Nurul Jubaedah,
S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru SKI MTsN 2 Garut
Duta Literasi Kabupaten
Garut
Kabid Humas AGERLIP PGM
Indonesia
(Naskah ke 175)
Pernahkah
kita bertanya pada diri sendiri, “Jika hidup bisa diulang, apakah aku akan
tetap memilih jalan ini?” Bagi sebagian orang, profesi guru bukanlah mimpi
masa kecil. Namun, momen-momen sederhana senyum murid, ucapan terima kasih,
atau semangat mereka saat belajar sering menjadi alasan mengapa profesi ini
terasa begitu berharga.
Awal yang Tak Selalu Direncanakan
Banyak guru
memulai perjalanan ini bukan karena cita-cita, melainkan kebutuhan hidup,
kondisi keluarga, atau bahkan panggilan hati yang tak disangka. Seperti kisah Harmi,
seorang guru honorer yang memulai langkahnya dengan penuh keraguan. Dalam
keadaan sulit setelah ayahnya kecelakaan dan keluarga terpuruk ekonomi, ia
tetap gigih mengajar sambil membantu keluarga lewat bimbingan belajar. Dari
murid-muridnya, ia menemukan kebahagiaan yang tak tergantikan.
Guru, Pelita di Tengah Keterbatasan
Di pelosok
negeri, ada sosok Zaharman yang mengajar tanpa kenal lelah meski sarana
terbatas. Ia percaya bahwa tantangan adalah bagian dari tugas mulia mencetak
generasi penerus. Penghargaan yang ia terima menjadi bukti bahwa ketulusan
tidak pernah sia-sia.
Lebih dari Sekadar Mengajar
Seorang guru
bukan hanya penyampai kurikulum. Mereka menyalakan rasa ingin tahu,
kreativitas, dan keberanian berpikir kritis. Carl Rogers pernah berkata, “Guru
bukanlah orang yang mengubah kenyataan, tetapi mereka yang memberi kita alat
untuk mengubah diri kita sendiri.” Lao Tzu pun mengingatkan, “Ajari
seorang anak cara memancing, dia akan makan seumur hidup.”
Ikhlas, Sumber Kebanggaan Sejati
Menjadi guru
bukan tentang besar gaji atau status sosial. Justru keikhlasan mendidik
generasi bangsa adalah kebanggaan hakiki. Seorang guru juga terus belajar,
berkembang seiring dengan murid-muridnya.
Momen Kecil yang Menguatkan
Di tengah
lelah, ada hal-hal sederhana yang menguatkan: sapaan ceria siswa di pagi hari,
tawa kecil di kelas, atau keberhasilan murid memahami pelajaran. Momen itulah
yang membuat guru sering berkata dalam hati: “Untung aku memilih jalan ini.”
Refleksi: Jika Hidup Bisa Diulang
Andai hidup
diberi kesempatan untuk diulang, banyak guru mungkin tak memulai dari mimpi,
tetapi dari pengalaman. Namun, setiap senyum dan semangat siswa adalah alasan
mengapa pilihan ini terasa begitu tepat. Guru bukan sekadar profesi, melainkan
panggilan hati untuk merajut harapan anak negeri.
Posting Komentar