Rr. Ayu Dewi Widowati Sosok Penggerak Literasi Guru dari Yogyakarta

Oleh: Deni Kurniawan As'ari, M.Pd. | Sekjen Agerlip PGM Indonesia





Di jajaran Dewan Pakar Agerlip PGM Indonesia ada  nama Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati. Ia lahir pada 29 Mei 1968, di Yogyakarta sebagai anak kedua dari pasangan Bapak R. Chajoen Probohatmodjo dan Ibu Rr. Titik Sunarti. Sejak kecil, Ayu tampak memiliki kecenderungan pada dunia sastra dan tulisan, hobinya menulis telah mulai ia gemari sejak duduk di SMP Negeri 5 Yogyakarta. Ayu menikah dengan Drs. Ansori, dan dari pernikahan ini mereka dikaruniai buah hati yang mendorong semangatnya: Fadilla Shania, Naufal, dan Alva.

 

Perjalanan Pendidikan dan Karier Guru

Ayu Dewi memulai kariernya di dunia pendidikan sebagai guru, mengajar di beberapa lembaga seperti SMKK Yogyakarta dan MAN Gandekan Bantul. Namun sejak sekitar tahun 2005, dia mengabdikan diri sepenuhnya sebagai guru Seni Budaya di MTsN 1 Yogyakarta.

 

Di lingkungan MTsN 1 Yogyakarta, ia bukan sekadar mengajar; Ayu menjadi sosok yang mendorong semangat literasi di kalangan guru dan siswa. Ia aktif dalam organisasi literasi dan terlibat dalam publikasi serta penyuntingan banyak buku antologi. Misalnya, selama pandemi COVID-19 ia berhasil mengajak guru-guru, kepala madrasah, pengawas, orang tua siswa, siswa, serta pihak terkait seperti penghulu dan anggota Dharma Wanita Persatuan untuk menulis dan menerbitkan buku antologi bersama.

 

Karya buku yang ditanganinya sebagai editor diantaranya buku antologi berjudul Tradisi Nusantara Bercerita, Keragaman Negeri Tiada Tepi, dan Menelusur Wisata Negeriku yang melibatkan sekitar 100 penulis dari berbagai latar pendidikan — guru, dosen, pengawas, unsur masyarakat.

 

Prestasi dan Penghargaan

Pengabdian dan karya Ayu Dewi tidak luput mendapat apresiasi resmi. Pada 29 September 2021, Kementerian Agama RI memberikan penghargaan kepada Ayu sebagai Penggerak Literasi Guru atas dedikasinya terhadap dunia tulis-menulis dan literasi guru.


Beberapa prestasi lain yang diperolehnya: Juara I Guru Berprestasi Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta tahun 2018, Juara III Guru Berprestasi Kanwil Kemenag DIY, Penghargaan Penulis Produktif oleh Perkumpulan Guru Madrasah Penulis (Pergumapi), Dinobatkan sebagai Guru Inspiratif Favorit untuk Daerah Istimewa Yogyakarta pada Ajang GTK Kementerian Agama RI (2022-2023), PGM Award (2024), Terakhir ia dinobatkan sebagai Juara III Guru Dedikatif MTs oleh Kemenag DIY (2026). Ayu telah menerbitkan buku tunggal seperti  yaitu Isakuiki,  Mas Paijo, Semua Karena Cinta,  Isakuiki Part #2 dan kerapkali jadi editor untuk banyak buku antologi. Total karya Buku karya sendiri, antologi dan sebagai PJ buku atau editor sebanyak 111 judul.

 


Peran sebagai Penggerak Literasi

Bukan hanya sebagai penulis dan guru, Ayu Dewi aktif membangun komunitas literasi dan menjadi sumber inspirasi bagi rekan sejawat dan siswa. Ia tergabung di komunitas seperti Easy Writing, juga menjadi editor di penerbit independen seperti Azkiya Publishing. Misalnya, saat menjadi narasumber dalam webinar kepenulisan yang diselenggarakan FORHATI Sumatera Utara pada tahun 2022, ia menyampaikan bahwa menulis bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja; bahwa menulis memperluas wawasan, menjadi sarana menyuarakan hati, sekaligus amal jariyah.

 

Dalam beberapa liputan, Ayu menyatakan bahwa tulis-menulis bukan sekadar hobi, tetapi cara untuk memberi manfaat bagi orang lain: “Saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain melalui tulisan,” demikian ungkapnya.

 

Ia juga melihat tulisan sebagai cara mengabadikan pengalaman, membingkai kenangan, dan mengukir sejarah — bahwa setiap guru dan orang punya cerita yang layak dituliskan agar menginspirasi.

 

Ketika menelusuri jejak Ayu Dewi Widowati, terlihat bahwa keberadaannya tidak hanya sebagai guru yang mengajar di kelas, melainkan sebagai penggerak literasi yang merasakan panggilan mendalam untuk menyebarkan semangat menulis dan membangun karakter melalui kata. Visi dan filosofi hidupnya memantul melalui tiap tindakannya—melintasi ruang madrasah, komunitas menulis, hingga publikasi di media nasional.

 

“Saya memandang literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca-menempa huruf ke kata, tetapi sebagai “jembatan” yang menghubungkan pemikiran, pengalaman, dan nilai-nilai antar generasi,” ujarnya. Dalam publikasi yang memuat profilnya, disebutkan bahwa ia di masa pandemi telah mengajak guru, kepala madrasah, pengawas, siswa, hingga orang tua dan penghulu untuk turut menulis dan menerbitkan buku antologi bersama. Hal ini menunjukkan bahwa visinya mencakup pemberdayaan seluruh ekosistem pendidikan agar literasi menjadi praktik kolektif, bukan aktivitas individual saja.

 

Lebih lanjut, dalam tulisan penelitian “Strategi Guru Penggerak dalam Menumbuhkan Karakter Moderat melalui Literasi di Madrasah” yang memuat karya Ayu Dewi Widowati sebagai salah satu peneliti, literasi digarisbawahi sebagai jalur efektif membangun karakter moderat di tengah pluralitas, sekaligus merawat keberagaman budaya di madrasah. Dengan visinya itu, Ayu tidak hanya menantang guru untuk menulis, tetapi ingin agar tulisan menjadi medium menyatukan ragam latar—agama, budaya, sekolah negeri atau madrasah—dengan akar nilai bersama.

 

Dalam kutipan yang diwartakan oleh media madrasahnya, Ayu menyatakan, “Saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain melalui tulisan.” Kalimat itu menyiratkan bahwa menulis baginya bukan sekadar kepuasan pribadi, melainkan bagian dari pelayanan — sebuah cara untuk memberi manfaat, menginspirasi orang lain, dan merentangkan pengaruh positif lewat kata. Ia melihat tulisan sebagai warisan pemikiran, dokumentasi pengalaman, dan bentuk amal jariyah yang tetap hidup meski ia tiada.

 

Ia juga menjaga keseimbangan antara profesi mengajar dan aktivitas literasi. Meski kesibukan sebagai guru dan penggerak literasi tinggi, ia tetap hadir di kelas, menyapa anak didik, dan menjalankan tugas madrasah secara konsisten. Hal ini mencerminkan keyakinannya bahwa pemimpin literasi adalah pencinta kelas, bukan pengabaian dunia nyata demi aktivitas semata.


Tulisan ini telah dimuat dalam buku berjudul: Kisah Guru Madrasah Hebat Yang Menginspirasi Negeri diterbitkan Azkiya Publishing.

***

Lebih baru Lebih lama