Mengikat Ide Liar, Menyalakan Cahaya Literasi: Kisah Ceceu Gumilang dari Cimahi

Oleh: Deni Kurniawan As’ari, M.Pd. | Sekjen Agerlip PGM Indonesia

 


Di tengah riuh aktivitas madrasah dan kehidupan keluarga diplomat, nama Dra. Euis Ratna Gumilang, yang dikenal dengan nama pena Ceuceu Gumilang, berkibar bukan sekadar sebagai pendidik, melainkan juga sebagai jembatan kata dan inspirasi. Lahir di Kuningan, 14 November 1968, ia menapaki jalur hidup yang kelak menjadikan namanya akrab di kalangan dunia madrasah dan komunitas penulis guru.

 

Pada tahun 1997, Ceuceu memulai pengabdiannya sebagai guru di MI Asih Putera—lembaga madrasah yang kemudian menjadi panggung bagi kiprahnya selama puluhan tahun. Empat tahun kemudian, jabatan kepemimpinan diamanahkan padanya: sejak 2001, ia dipercaya menjadi Kepala Madrasah (Kamad) MI Asih Putera. Namun cerita hidup tak selalu berjalan lurus. Ketika sang suami bertugas di luar negeri tepatnya di KBRI Yangon, Myanmar, ia mengambil cuti di luar tanggungan dan ikut mendampingi, meninggalkan tugas administratifnya hingga tahun 2009.

 

Setelah kembali ke tanah air, pada 2010, Ceuceu kembali ke lingkup Asih Putera dan merambah ke jenjang MTs juga MA. Dalam pemilihan kepala madrasah MA tahun itu, ia memenangkan kepercayaan dan resmi menjabat sebagai Kamad MA Multiteknik Asih Putera periode 2010–2012. Namun tak lama kemudian, panggilan tugas diplomatik suami membawanya kembali ke Myanmar.

 

Sejak Juli 2012 hingga 2019, ia pun mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Indonesian International School Yangon (IISY). Peran ini bukan sekadar mengajar bahasa, melainkan membangun jembatan kebudayaan antara Indonesia dan lingkungan internasional.

 

Selain menjadi guru BIPA, dia juga mengajar beberapa mata pelajaran kurikulum Indonesia bagi anak-anak WNI yang sekolah di Sekolah Indonesia Yangon (SIY), yaitu Sosiologi, Geografi, dan Bahasa Indonesia, bahkan mengajar mengaji anak-anak Indonesia di Masjid Baitul Muhajirin KBRI Yangon.

 

Selama di Yangon, selain mengajar, dia juga aktif di organisasi Dharma Wanita Persatuan KBRI Yangon dan dipercaya mengelola Buletin DWP KBRI Yangon, sebagai editor sekaligus penulis.

 

Di luar tugas mengajar, Ceuceu Gumilang dikenal aktif dalam dunia literasi. Ia mengelola website Yayasan Asih Putera dan aktif menulis berbagai artikel di sana. Selain itu, dia juga aktif menulis artikel-artikel berbahasa Sunda, salah satu karyanya adalah “Kuliner Basisir Kaler” dan “Trusmi, Puseur Batik Cirebonan” yang mengupas tentang keragaman kuliner daerah pantura dan batik khas Kota Cirebon, kota di mana dia dibesarkan. Artikel-artikel tersebut dipublikasikan di Majalah Sunda Manglé juga portal online sundanews.id dan menjadi bagian dari ragam tulisannya di dunia media lokal.

 

Belum cukup sampai disitu, ia juga mewarnai ranah novel dan cerpen digital melalui platform KBM App dan KLPK App. Dalam beberapa event lomba menulis cerpen dan cerbung daring, ia beberapa kali meraih prestasi. Lewat pengalaman itulah ia kerap berbagi strategi dan motivasi kepada rekan-rekan guru — bahwa menulis bisa jadi sumber penghasilan nyata bila dilakukan dengan konsisten dan memahami tren pasar digital.

 

Pada Webinar Nasional AGERLIP #2 yang diselenggarakan tahun 2025, Ceuceu hadir sebagai pembicara yang mengupas detail proses menulis novel online dan strategi monetisasi karya. Dalam sesi tersebut, ia menegaskan bahwa: “menulis adalah keterampilan yang bisa menjadi sumber penghasilan nyata”. Ia membimbing peserta dari tahap penangkapan ide, menyusun outline, hingga menerbitkan karya melalui platform seperti KBM, KLPK, Wattpad, atau lainnya.

 

Lewat kisah hidupnya, Ceuceu mengajarkan bahwa panggilan mendidik dan panggilan menulis tidak harus dipisahkan, itu bisa berjalan beriringan. Ia tetap meneguhkan bahwa seorang guru — meskipun berada di ruang kelas atau negeri seberang — dapat menjadi penulis yang karyanya menjangkau banyak hati dan menginspirasi, tanpa batas ruang dan waktu.

 

أحدث أقدم