Sebening Mazhab: Ketika Cinta, Keyakinan, dan Takdir Saling Berhadapan

 Oleh: Deni Kurniawan As’ari, M.Pd. | Sekjen Agerlip PGM Indonesia

 


Dunia sastra Indonesia kembali diramaikan dengan hadirnya karya M. Maghfur Qumaidi, S.Pd., S.Sos., M.Pd.,  seorang guru IPS di MTsN 1 Kediri, Jawa Timur, sekaligus Pengurus Pusat Agerlip PGM Indonesia. Melalui novel berjudul Sebening Mazhab, ia menghadirkan kisah yang memadukan cinta, amanah keluarga, kehidupan pesantren, dan pergulatan menerima takdir. Buku yang diterbitkan oleh Azzahra Publicer ini menawarkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan makna perbedaan dan keteguhan iman.

 

“Proses penulisan buku ini berlangsung selama empat bulan, karena bersamaan dengan pengerjaan buku nonfiksi,” ujarnya. Kesibukannya mengajar dan tugas lainnya  di dunia pendidikan tidak menghalanginya untuk terus berkarya dan menghadirkan cerita yang dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat. Ia bercerita seringkali menulis buku selepas sholat subuh dan sela-sela luang saat jam kosong mengajar.

 

Ketika Amanah Mengubah Masa Depan

Novel ini berkisah tentang Fatimah, seorang perempuan yang telah merancang masa depannya di dunia modern. Namun, takdir membawanya kembali ke tanah air untuk meneruskan pesantren peninggalan sang kakek. Bagi Fatimah, pesantren merupakan lingkungan yang asing karena ia tumbuh jauh dari kehidupan tersebut.

 

Impian tentang karier dan masa depan yang telah direncanakan harus ia kesampingkan demi menjalankan amanah keluarga. Situasi ini menghadapkan Fatimah pada pilihan yang tidak mudah: memperjuangkan keinginan pribadi atau menerima tanggung jawab yang diwariskan kepadanya.

 

Perjalanan Fatimah menggambarkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Terkadang, seseorang harus menghadapi keadaan yang tidak pernah dipilihnya untuk menemukan makna baru dalam hidup.

 

Konflik semakin rumit ketika Fatimah menemukan cinta yang tumbuh di tengah kehidupan pesantren. Hubungan yang dibangun atas ketulusan itu harus berhadapan dengan perbedaan mazhab, sekat budaya, dan pandangan konservatif lingkungan sekitarnya.

Cinta yang semestinya menjadi ruang untuk saling memahami justru terjebak dalam pertentangan. Fatimah harus mempertimbangkan perasaan, keyakinan, serta tekanan orang-orang yang menganggap perbedaan sebagai kesalahan.

 

Melalui konflik tersebut, Sebening Mazhab mengajak pembaca merenungkan bagaimana perbedaan pandangan keagamaan seharusnya disikapi. Keteguhan dalam berkeyakinan tidak semestinya menghilangkan sikap saling menghormati. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk belajar memahami orang lain dengan hati yang lebih terbuka.

 

Judul Sebening Mazhab pun terasa reflektif. Kata “sebening” seolah menjadi ajakan untuk menjernihkan hati dan pikiran ketika berhadapan dengan perbedaan, agar keyakinan tidak berubah menjadi alasan untuk saling menghakimi.

 

Pergulatan Batin dan Penerimaan Takdir

Di tengah beratnya persoalan, Fatimah menemukan ruang untuk menumpahkan kegelisahan melalui doa-doa pada sepertiga malam. Ia mulai mempertanyakan takdir yang seolah merenggut masa depan impiannya.

 

Fatimah dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan cinta atau menerima keadaan, antara meninggalkan amanah atau bertahan menghadapi luka. Kehadiran konsep Lauhulmahfuz memperkuat dimensi spiritual cerita, mengingatkan bahwa manusia dapat berusaha dan merencanakan kehidupan, tetapi tidak sepenuhnya mengendalikan hasilnya.

 

Namun, menerima takdir bukan berarti menyerah tanpa perjuangan. Penerimaan juga membutuhkan keberanian untuk menghadapi kenyataan, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan tetap menjaga prinsip di tengah ketidakpastian.

 

Buku karya M. Maghfur Qumaidi ini bukan semata-mata kisah cinta yang terhalang perbedaan. “Lebih dari itu, novel ini merupakan perjalanan tentang amanah, keteguhan hati, dan usaha manusia untuk berdamai dengan takdir,” ungkap Maghfur.


Sebagaimana air yang bening memungkinkan seseorang melihat dengan jelas, hati yang jernih membantu manusia memandang perbedaan tanpa tergesa-gesa menghakimi. Barangkali, di situlah pesan penting novel ini: bahwa cinta, keyakinan, dan tanggung jawab membutuhkan kebijaksanaan agar perbedaan tidak selalu berakhir menjadi pertentangan.

Identitas Buku

  • Judul: Sebening Mazhab
  • Penulis: M. Maghfur Qumaidi
  • Editor: Kamila Zahin S
  • Penerbit: Azzahra Publicer
أحدث أقدم