Oleh: Deni Kurniawan As’ari, M.Pd. | Sekjen Agerlip PGM Indonesia
Di Kabupaten Kediri, dari keluarga sederhana yang mencintai ilmu, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi teladan dalam dunia literasi madrasah. Dialah Muhamad Maghfur Qumaidi, S.Sos, S.Pd, M.Si., putra dari H. Sofyan (alm.) dan Hj. Siti Qomariyah (almh.), yang memilih jalan panjang pendidikan dan pena sebagai jalan pengabdian. Maghfur menikah dengan Sahroeni, S.Pd., M.Si., sesama pendidik di MTsN 7 Kediri, dan dari pernikahan itu lahir dua putri: Kamila Zahin Shabirina, S.Hum dan Diana Saniya Majida Fauziyah. Keberadaan keluarga ini menjadi fondasi yang menyokong semangatnya menulis dan berinovasi literasi.
Jejak Awal: Pendidikan dan Karier
Guru
Maghfur menghabiskan masa kecil,
sekolah dasar hingga Madrasah Aliyah-nya di Kediri, tepatnya SDN Keling 1 dan
MTsN Model Pare (sekarang MTsN 1 Kediri). Ia melanjutkan langkah ke bangku
kuliah, mengambil S1 di Universitas Merdeka Malang dan Universitas Negeri
Malang, sebelum kemudian meraih gelar Magister (S2) di Universitas Darul Ulum
Jombang.
Kini, beliau mengabdi sebagai guru
IPS di MTsN 1 Kediri, sebuah posisi yang ia jalani sekaligus wadah literasi dan
inovasi. Dalam kapasitasnya sebagai guru madrasah, Maghfur tidak hanya berdiri
di depan kelas, tetapi menebar ide dan tindakan literasi di lingkungan madrasah
dan komunitas guru.
Salah satu aspek yang paling
mencolok dari Maghfur adalah betapa produktifnya ia menulis dan mengelola karya
orang lain. Ia berhasil menulis sebanyak 54 buku ber-ISBN dan editor untuk
sekitar 443 buku.
Ragam karyanya mencakup buku-buku
pendidikan, literasi, sosial, metode pembelajaran, serta inovasi literasi
digital. Beberapa prestasi mutakhir menunjukkan bahwa beliau terus menciptakan
karya yang relevan di era digital: misalnya, pada tahun 2025 ia merancang Kamus
Glosarium Sosial berbasis digital menggunakan platform teknologi seperti
Kodular, MySQL, dan PHP.
Tak hanya itu, program-program
inovasinya terdengar nyata di lapangan: gerakan “Satu Kelas Satu Buku” (2018),
web jurnalistik madrasah (2019), media pembelajaran Educreative dan Edusaince
untuk IPS, pembuatan “Saku Serpres (Satu Buku Seribu Prestasi)”, literasi
menulis dalam empat bahasa, gerakan literasi pesantren di Kabupaten Kediri, dan
bahkan permainan tradisional “ular tangga” untuk penguatan literasi sejarah
(2025).
Salah satu tonggak nyata adalah ketika program Literasi Empat Bahasa diluncurkan di MTsN 1 Kediri, dan Maghfur dipercaya sebagai pilot project literasi tersebut. Siswa-siswa madrasah tempatnya mengajar juga mampu menerbitkan buku multibahasa (empat bahasa) dalam program saku serpres (satu buku seribu prestasi) — sebuah bukti bahwa ide besar bukan hanya gagasan, melainkan terbukti di level siswa dan madrasah.
Maghfur juga aktif dalam organisasi
literasi di Jawa Timur. Ia menjadi salah satu pengurus Ikatan Guru Madrasah
Penggiat Literasi
(IGMPL) Jawa Timur, dan ikut menjadi narasumber dalam
diklat literasi — misalnya di MTsN 2 Sidoarjo bersama IGMPL Jawa Timur. Narasumber seminar nasional, di antara di Kemendikbud ristek, IIBF
Jakarta, maupun Webinar nasional.
Ia
memimpin koordinasi Sagusabu di Kabupaten Kediri — sebuah gerakan literasi yang
fokus menghasilkan buku dari guru-guru dan sekolah. Ia memaparkan motivasi
mengapa guru harus menulis buku, bagaimana diklat menulis buku bukan semata
teori tetapi menghasilkan produk nyata, dan bagaimana menggerakkan
sekolah-skolah agar ikut serta.
Menjalankan fungsi sebagai guru —
yang harus memenuhi beban mengajar, administrasi, dan pengembangan siswa — adalah
satu tantangan besar. Di tengah itu, Maghfur menyisipkan penulisan, editor,
inisiasi inovasi digital, serta koordinasi program literasi di tingkat lembaga
dan internasional. Namun, semangat
menulis sudah tumbuh sejak menjadi mahasiswa,
ia menjadi guru MTsN 7 Kediri lalu berpindah ke MTsN 1 Kediri, dan ia
ikut aktif sebagai editor majalah madrasah.
Motivasinya tampak jelas dari
kutipan yang berulang di akun media sosial dan profilnya: bahwa literasi adalah
jalan pelayanan, bahwa guru penulis punya tanggung jawab menyuarakan
pengalaman, dan bahwa karya tidak hanya menjadi milik dirinya tetapi menjadi
inspirasi bagi orang lain.
Maghfur Qumaidi menyuguhkan
paradigma bahwa literasi di madrasah bukanlah soal tambahan tugas, melainkan
cara guru dan siswa merayakan kreativitas, menyapa masa depan lewat kata, dan
membangun warisan intelektual lokal yang lestari. Dari Kabupaten Kediri hingga
ke panggung nasional literasi, namanya menjadi simbol bahwa guru bisa melampaui
batas kelas — menulis buku, membangun inovasi digital, dan memimpin gerakan
literasi yang meluas.
