Mengapa
Kesabaran Menjadi Keterampilan Hidup yang Semakin Langka
Oleh: Ai Ida Rosdiana, M.Pd.
“Sabar bukan berarti tidak memiliki emosi. Sabar adalah kemampuan
untuk tidak membiarkan emosi menentukan seluruh tindakan.”
Hampir setiap hari, bahkan setiap kali membuka media sosial atau
membaca portal berita, kita disuguhi berbagai kabar yang membuat hati terasa
sesak. Berita tentang korupsi, kekerasan, penipuan, pengeroyokan,
penyalahgunaan kekuasaan, hingga berbagai konflik datang silih berganti. Kita
bahkan kerap menyaksikan kemarahan yang muncul seolah tanpa jeda: seseorang
tiba-tiba memukul orang lain yang bahkan tidak dikenalnya, seseorang kehilangan
kendali hanya karena persoalan kecil, atau seorang pemuda yang terlihat dalam
sebuah unggahan di media sosial sedang berteduh di sekitar pos keamanan sebuah
perusahaan sambil menyantap roti karena lelah setelah mencari pekerjaan. Dalam
unggahan tersebut, pemuda itu kemudian terlihat disiram air oleh seorang petugas
keamanan.
Kita tentu tidak mengetahui seluruh kronologi peristiwa tersebut
hanya dari sebuah unggahan media sosial. Namun, pemandangan itu tetap
meninggalkan pertanyaan. Mengapa dalam situasi tertentu seseorang lebih
memilih bereaksi sebelum bertanya? Mengapa rasa lelah dan kebutuhan untuk
sekadar berteduh tidak selalu mampu membangkitkan empati? Dan mengapa kita
semakin mudah bertindak sebelum memahami keadaan orang lain?
Peristiwa tersebut mungkin tampak sebagai satu kejadian yang
berdiri sendiri. Namun, ketika kita melihat berbagai peristiwa lain yang
memperlihatkan kemarahan, kekerasan, keserakahan, dan hilangnya empati, ada
sesuatu yang patut direnungkan: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan
kemampuan manusia untuk menahan diri?
Tentu, rentetan kabar tersebut tidak berarti seluruh masyarakat
berada dalam kondisi yang sama. Masih banyak keteladanan, kepedulian, dan
kebaikan yang tumbuh di sekitar kita. Namun, berbagai peristiwa itu tetap
mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa manusia semakin mudah
bereaksi sebelum memahami? Mengapa persoalan kecil dapat berubah menjadi
kemarahan? Mengapa ketika memiliki sedikit kuasa, seseorang terkadang begitu
mudah menggunakannya untuk menyakiti orang lain? Dan mengapa di tengah
kehidupan yang semakin terhubung, rasa empati justru terasa semakin tipis?
Mengapa perbedaan dapat berubah menjadi permusuhan? Mengapa
keserakahan masih tumbuh ketika seseorang sebenarnya telah memiliki lebih dari
cukup? Dan mengapa keinginan untuk mendapatkan pengakuan terkadang membuat
seseorang rela melakukan apa saja?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita pada satu hal yang
sering terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting: sabar.
Sebuah Pelajaran yang Tinggal dalam Ingatan
Ada satu gagasan dari dosen yang pernah mengajar dan membimbing
proses belajar yang terus tinggal dalam ingatan: sabar lebih mirip otot yang
harus dilatih. Gagasan tersebut dituangkan dalam tulisan Latihan Sunyi
Bernama Sabar karya Mulyawan Safwandy Nugraha, dosen UIN Sunan Gunung Djati
Bandung.
Kalimat itu sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin
luas maknanya. Kesabaran ternyata bukan sesuatu yang otomatis dimiliki
seseorang hanya karena bertambah usia, tinggi pendidikan, atau banyak
pengalaman. Ia perlu dilatih, sebagaimana otot perlu digunakan agar tetap kuat.
Menunggu tanpa mengeluh, menahan diri ketika tersinggung, memilih
diam sebelum mengatakan sesuatu yang dapat melukai, menerima proses ketika
hasil belum sesuai harapan, dan tetap melakukan yang benar ketika tidak ada
yang melihat merupakan latihan-latihan kecil yang membentuk kesabaran.
Sebuah gagasan dari ruang pembelajaran ternyata dapat menemukan
makna baru ketika berhadapan dengan kehidupan. Bagi seorang murid, pemikiran
seorang dosen tidak selalu selesai ketika perkuliahan berakhir. Ada gagasan
yang justru tumbuh perlahan, menemukan bentuknya melalui pengalaman,
perenungan, dan karya.
Mungkin inilah salah satu makna pendidikan yang paling indah: seorang
pendidik menanamkan gagasan, lalu murid mengolahnya menjadi kesadaran dan karya
dengan caranya sendiri.
Dari gagasan tentang sabar sebagai latihan itulah muncul pertanyaan
yang lebih jauh: jika sabar memang harus dilatih, apa yang terjadi ketika
manusia berhenti melatih kemampuan mengendalikan dirinya?
Sabar Bukan Sekadar Menahan Marah
Selama ini, sabar sering dipahami sebagai kemampuan menunggu atau
menerima keadaan. Padahal, maknanya jauh lebih luas. Sabar adalah kemampuan
mengendalikan diri ketika emosi memuncak, menjaga lisan agar tidak melukai
orang lain, menahan keinginan yang tidak semestinya, serta tetap memilih jalan
yang benar ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya.
Kita hidup di zaman yang menawarkan hampir segala sesuatu secara
instan. Informasi bergerak dalam hitungan detik. Media sosial mendorong
seseorang bereaksi sebelum sempat berpikir. Keinginan pun sering ingin segera
terpenuhi.
Tanpa disadari, kita semakin sedikit memiliki ruang untuk berhenti,
menarik napas, merenung, lalu mengambil keputusan dengan tenang. Padahal, jeda
itulah yang sering menjadi awal dari lahirnya kesabaran.
Dalam psikologi, kemampuan semacam ini berkaitan dengan
self-control dan regulasi emosi. Walter Mischel, misalnya, banyak mengkaji
kemampuan manusia menunda kepuasan. Daniel Goleman juga menempatkan kemampuan
mengelola emosi sebagai bagian penting dari kecerdasan emosional.
Sederhananya, tidak semua keinginan harus segera dipenuhi dan
tidak semua dorongan harus langsung diikuti.
Ketika marah, ada jeda sebelum berbicara. Ketika tersinggung, ada
pilihan untuk tidak langsung membalas. Ketika tergoda mengambil sesuatu yang
bukan hak, ada kesempatan untuk mengatakan tidak. Ketika menerima pujian, ada
ruang untuk tetap rendah hati. Dan ketika tidak mendapatkan pengakuan, ada
kemampuan untuk tetap melakukan kebaikan tanpa harus selalu dilihat.
Jeda-jeda kecil itulah tempat kesabaran bekerja.
Ketika Kesabaran Berhadapan dengan Ego
Kesabaran mungkin paling sulit bukan ketika seseorang sedang
kekurangan, melainkan ketika ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan lebih dari
yang semestinya.
Pada titik itu, seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri: cukup
atau terus mengambil, jujur atau mencari pembenaran, rendah hati atau terus
mengejar pengakuan.
Keserakahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ia
dapat bersembunyi di balik alasan yang tampak masuk akal. Kebohongan pun tidak
selalu dimulai dari kebohongan besar. Kadang ia tumbuh dari pembenaran kecil
yang terus diulang hingga akhirnya terasa biasa.
Begitu pula dengan ego. Ia dapat muncul ketika seseorang merasa
harus selalu benar, sulit menerima kritik, ingin dihargai lebih tinggi daripada
orang lain, atau merasa perlu mempertahankan citra tertentu di hadapan banyak
orang.
Keinginan untuk mendapatkan pengakuan adalah sesuatu yang
manusiawi. Namun, ketika validasi dari orang lain menjadi tujuan utama,
seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah yang dilakukan benar-benar baik, atau hanya ingin terlihat
baik?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab. Manusia
dapat begitu sibuk membangun citra di hadapan orang lain hingga lupa membangun
dirinya sendiri.
Karena itu, kesabaran juga berarti memberi kesempatan kepada diri
sendiri untuk berhenti, bercermin, dan memperbaiki arah.
Melatih Diri Sebelum Menuntut Orang Lain
Dalam tradisi tasawuf, persoalan memperbaiki diri sangat erat
dengan perjuangan melawan dorongan hawa nafsu. Imam Al-Ghazali banyak membahas
pentingnya mujahadah al-nafs, yaitu kesungguhan manusia dalam mengendalikan
dorongan dirinya agar tidak diperbudak oleh keinginan.
Gagasan ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin mampu mengendalikan orang lain, tetapi belum
tentu mampu mengendalikan dirinya. Seseorang mungkin memiliki jabatan, harta,
pengetahuan, dan pengaruh, tetapi semua itu belum menjamin bahwa ia mampu
menahan diri ketika berhadapan dengan kesempatan.
Karena itu, ukuran kematangan seseorang tidak selalu terlihat dari
seberapa besar kekuasaan yang dimilikinya, tetapi dari bagaimana ia
menggunakan kekuasaan tersebut.
Tidak semua
yang dapat dilakukan berarti boleh dilakukan.
Tidak semua yang menguntungkan berarti benar.
Tidak semua yang dipuji berarti baik.
Di sinilah
sabar menjadi latihan batin. Ia memberikan ruang bagi manusia untuk bertanya
sebelum bertindak: apakah keputusan ini lahir dari kebutuhan yang wajar, atau
dari keinginan yang tidak pernah merasa cukup?
Sabar dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, sabar memiliki makna yang luas. Ia bukan hanya
kemampuan bertahan ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga kemampuan
mengendalikan diri ketika memperoleh kenikmatan, menahan hawa nafsu dari
perbuatan yang dilarang, dan tetap istiqamah dalam menjalankan kebaikan.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa sabar bukan sekadar nasihat moral.
Ia merupakan bagian dari pembentukan karakter manusia.
Karena itu, sabar perlu dilatih bukan hanya ketika menghadapi
masalah, tetapi juga ketika mendapatkan kenikmatan. Seseorang perlu belajar
menahan diri ketika memiliki kesempatan, menjaga amanah ketika memiliki
kekuasaan, dan tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan.
Sabar juga bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Sabar dapat
berarti memilih cara yang tepat untuk memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan
kendali atas diri sendiri.
Sabar bukan
kelemahan. Ia justru membutuhkan kekuatan.
Pendidikan: Tempat Kesabaran Dilatih
Di dunia pendidikan, latihan kesabaran berlangsung setiap hari.
Guru belajar bersabar menghadapi peserta didik dengan karakter,
kemampuan, dan latar belakang yang berbeda. Peserta didik belajar menerima
proses, menghadapi kegagalan, menghargai perbedaan, dan terus mencoba ketika hasil
belum sesuai harapan. Orang tua pun belajar bersabar mendampingi tumbuh kembang
anak yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Karena itu, sekolah bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan.
Sekolah juga merupakan ruang untuk belajar mengelola emosi, menghargai orang
lain, menerima proses, dan mengendalikan keinginan.
Nilai kesabaran bahkan lebih mudah dipelajari melalui keteladanan
daripada melalui nasihat. Anak akan belajar dari cara orang dewasa
menyelesaikan masalah, menerima kritik, meminta maaf ketika salah, dan menahan
diri ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.
Begitu pula di keluarga. Nasihat tentang kesabaran akan kehilangan
maknanya jika anak terus melihat bahwa setiap persoalan diselesaikan dengan
kemarahan.
Artinya, pendidikan kesabaran tidak cukup dimasukkan ke dalam
materi pelajaran. Ia perlu hadir dalam budaya sehari-hari.
Ketika Sabar Menjadi Bekal Kehidupan Bersama
Masyarakat juga membutuhkan kesabaran. Perbedaan pendapat tidak
selalu harus berakhir dengan permusuhan. Kritik tidak harus dibalas dengan
kebencian. Ketidaksepakatan tidak harus berubah menjadi kekerasan.
Dalam kehidupan berbangsa, kesabaran menjadi bagian dari
kedewasaan. Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk mendengar sebelum menjawab,
memeriksa sebelum menyebarkan informasi, dan berdialog sebelum mengambil
kesimpulan.
Bahkan dalam menghadapi persoalan seperti korupsi dan
penyalahgunaan amanah, kesabaran tetap memiliki tempat. Pemberantasan korupsi
membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan tidak harus lahir dari kebencian.
Penegakan aturan membutuhkan keberanian, tetapi keberanian tidak harus berubah
menjadi tindakan semena-mena.
Di sinilah kesabaran bertemu dengan keadilan:
Tetap tegas terhadap kesalahan, tetapi tidak kehilangan kemanusiaan
dalam menyikapinya.
Kembali Melatih Kesabaran
Barangkali kita tidak sedang kekurangan orang cerdas. Kita juga
tidak kekurangan teknologi, aturan, atau berbagai program pembangunan. Namun,
yang perlahan menjadi langka adalah manusia yang mampu mengendalikan dirinya
ketika marah, menahan godaan ketika memiliki kekuasaan, dan tetap memilih
kebaikan ketika tidak ada yang melihat.
Kesabaran memang tidak selalu menghasilkan sesuatu yang
spektakuler.
Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang berhasil menahan amarah.
Tidak ada penghargaan ketika seseorang memilih tidak mengambil sesuatu yang
bukan haknya. Tidak selalu ada pujian ketika seseorang tetap jujur meskipun
kesempatan untuk berbuat sebaliknya terbuka.
Namun, justru di situlah nilai kesabaran.
Ia bekerja dalam diam.
Kesabaran menjaga seseorang agar tidak membalas ketika mampu
membalas. Menjaga seseorang agar tidak mengambil ketika memiliki kesempatan.
Menjaga seseorang agar tidak menyakiti ketika sedang terluka. Dan menjaga
seseorang agar tidak kehilangan dirinya hanya karena ingin mendapatkan
pengakuan dari orang lain.
Mungkin sudah saatnya sabar tidak lagi dipandang sekadar sebagai
nasihat yang diucapkan ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Sabar
perlu dipahami sebagai keterampilan hidup yang dilatih setiap hari.
Sebab, kesabaran bukan hanya tentang bagaimana menghadapi
penderitaan. Ia juga tentang bagaimana bersikap ketika memiliki kekuasaan,
ketika memperoleh kesempatan, ketika mendapatkan pujian, ketika menghadapi
perbedaan, dan ketika tidak seorang pun sedang melihat.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk
menjalani kehidupan. Manusia juga membutuhkan kemampuan untuk berhenti sejenak
sebelum bertindak, mengendalikan keinginan sebelum menjadi keserakahan,
mengelola ego sebelum menjadi keangkuhan, dan menjaga kata-kata sebelum berubah
menjadi luka.
Sabar adalah latihan sunyi. Tidak selalu terlihat, tetapi hasilnya dapat dirasakan dalam cara
seseorang memperlakukan dirinya, orang lain, dan amanah yang dipercayakan
kepadanya.
Jika latihan itu terus dilakukan di rumah, di sekolah, di tempat
kerja, di tengah masyarakat, dan dalam kehidupan berbangsa barangkali kita
tidak hanya sedang membentuk manusia yang lebih sabar. Kita sedang membangun
manusia yang lebih mampu mengendalikan dirinya.
Dan mungkin, dari kemampuan sederhana untuk mengendalikan diri
itulah, kehidupan yang lebih beradab perlahan dimulai.
Posting Komentar