Dr. Hj. Neni Argaeni, M.Pd.I. lahir di Bogor pada 1 Maret 1966. Beliau merupakan sosok pendidik, organisatoris, dan pejuang pendidikan yang dikenal luas atas dedikasi serta pengabdiannya di dunia pendidikan Indonesia. Bunda Neni berasal dari keluarga yang aktif dalam pendidikan dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Dalam kehidupan pribadinya, beliau dikenal sebagai istri dari H. Irmansyah Ismail, B.Sc., serta ibu yang penuh kasih bagi anak-anaknya.
Pendidikan terakhir beliau adalah Program Doktor (S3) Ilmu Pendidikan di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung. Latar belakang akademik tersebut semakin menguatkan kiprah dan pengabdiannya dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan madrasah dan pengembangan kualitas guru.
Dalam perjalanan kariernya sebagai ASN, Bunda Neni mendapat amanah sebagai kepala madrasah. Beliau juga menjabat sebagai Kepala MTs Al-Jihad sejak tahun 1993 hingga sekarang serta dipercaya menjadi Ketua Yayasan Al Jihad Depok. Selain aktif di lingkungan madrasah, beliau juga mengabdikan diri sebagai dosen di LAA Roiba Bogor.
Kiprah organisasi beliau sangat panjang dan penuh dedikasi. Di lingkungan PGM Indonesia, beliau pernah menjabat sebagai Bendahara Umum DPP PGM Indonesia masa bakti 2009–2013, kemudian dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal DPP PGM Indonesia masa bakti 2017–2022, hingga akhirnya menjadi Wakil Ketua Umum PP PGM Indonesia masa bakti 2022–2027. Beliau juga merupakan Dewan Pembina Agerlip PGM Indonesia yang kerap memberi support untuk kemajuan Agerlip sebagai badan otonom PGM Indonesia.
Beliau juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan, di antaranya sebagai Bendahara KPRI Sejahtera Kementerian Agama Kota Depok periode 2005–2010 dan 2010–2015, serta Sekretaris PC Muslimat NU Kota Depok periode 2010–2015 dan 2020–2022.
Bagi banyak orang, Bunda Neni bukan hanya seorang pemimpin organisasi, melainkan sosok ibu, pembimbing, dan inspirasi. Beliau dikenal sebagai pribadi yang santun, hangat, sederhana, serta memiliki kepedulian besar terhadap kemajuan pendidikan dan kesejahteraan guru. Semangat pengabdian dan ketulusan beliau menjadikan namanya begitu dihormati dan dicintai banyak orang.
Ada orang-orang yang hadir dalam hidup bukan hanya untuk menjalani hari-harinya sendiri, tetapi juga untuk menyalakan cahaya bagi orang lain. Bunda Neni adalah salah satu di antaranya. Sosok beliau bukan sekadar pendidik, melainkan juga ibu bagi banyak orang, penggerak, penuntun, dan teladan tentang bagaimana hidup dijalani dengan penuh pengabdian.
Kepergian Dr. Hj. Neni Argaeni, M.Pd.I. meninggalkan duka yang begitu mendalam. Rasanya sulit menerima bahwa suara lembut yang penuh nasihat itu kini tinggal kenangan. Namun di balik kesedihan itu, tersimpan rasa syukur yang besar karena pernah mengenal pribadi sebaik beliau. Sosok yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk pendidikan, membimbing generasi, serta memperjuangkan kemajuan organisasi dan umat dengan sepenuh hati.
Bunda Neni dikenal sebagai salah satu tokoh terbaik di lingkungan PGM Indonesia. Sebagai Wakil Ketua Umum PGM Indonesia sekaligus pendiri, beliau bukan hanya hadir dalam struktur organisasi, tetapi benar-benar hidup bersama perjuangan itu sendiri. Beliau mengorbankan tenaga, waktu, pikiran, bahkan kenyamanan pribadi demi memastikan pendidikan terus berjalan dan berkembang. Banyak orang mengenal beliau sebagai perempuan tangguh yang tidak pernah lelah memperjuangkan kualitas guru dan masa depan anak-anak bangsa.
Namun bagi banyak orang yang pernah dekat dengan beliau, Bunda Neni jauh lebih dari sekadar tokoh organisasi. Beliau adalah pribadi yang hangat. Senyumnya menenangkan. Cara bicaranya lembut, tetapi penuh keyakinan. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab besar yang beliau emban, beliau tetap memiliki ruang untuk mendengar keluh kesah orang lain, memberi semangat, dan menguatkan siapa saja yang sedang kehilangan arah.
Saya masih mengingat bagaimana beliau selalu berbicara tentang pendidikan bukan sebagai pekerjaan, melainkan sebagai panggilan hidup. Menurut beliau, menjadi guru berarti menanam harapan. Setiap anak yang dididik adalah masa depan yang harus dijaga. Karena itu, beliau selalu menekankan pentingnya ketulusan dalam mengajar. Bukan sekadar mengejar administrasi atau formalitas, tetapi benar-benar hadir untuk membentuk manusia.
Keteladanan beliau tampak dalam tindakan sehari-hari. Beliau tidak pernah lelah menghadiri kegiatan pendidikan, berdiskusi dengan para guru, memberi motivasi kepada generasi muda, dan memperjuangkan aspirasi dunia pendidikan. Bahkan dalam kondisi lelah sekalipun, beliau tetap hadir dengan semangat yang sama. Ada ketulusan yang begitu nyata dalam setiap langkah perjuangannya.
Bunda Neni juga mengajarkan bahwa perjuangan tidak harus dilakukan dengan suara keras. Beliau memperlihatkan bahwa kelembutan dapat menjadi kekuatan yang luar biasa. Dengan sikap santun dan penuh kasih, beliau mampu menyentuh hati banyak orang. Beliau tidak hanya dihormati karena jabatan atau pengalaman, tetapi dicintai karena ketulusan dan kepeduliannya.
Beliau adalah contoh nyata bahwa hidup yang sederhana sekalipun dapat meninggalkan jejak yang luar biasa jika dijalani dengan penuh keikhlasan. Pengabdian beliau kepada pendidikan akan terus dikenang. Jejak langkahnya akan tetap hidup dalam karya, gagasan, dan semangat para murid, guru, serta rekan perjuangan yang pernah bersama beliau.
Hari ini, mungkin raga beliau telah tiada. Namun nilai-nilai yang beliau tanamkan tidak akan pernah hilang. Semangat juangnya akan terus menjadi inspirasi bagi banyak orang. Nama beliau akan tetap disebut dengan hormat dan cinta oleh mereka yang pernah merasakan ketulusan hatinya.
Kepergian Bunda Neni mengingatkan kita bahwa hidup yang paling bermakna bukanlah hidup yang diisi dengan kemegahan, melainkan hidup yang dihabiskan untuk memberi manfaat kepada orang lain. Dan itulah yang telah beliau lakukan sepanjang hidupnya.
Selamat jalan, Bunda Neni.
Terima kasih atas cinta, perjuangan, dan keteladanan yang telah Bunda wariskan. Semoga segala amal ibadah Bunda diterima oleh Allah SWT, segala khilaf diampuni, dan Bunda ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Kami percaya, orang-orang baik tidak pernah benar-benar pergi. Mereka akan selalu hidup dalam doa, kenangan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan.
Al-Fatihah untuk Bunda Neni, sang pejuang pendidikan.
(Catatan kecil Deni Kurniawan As'ari/Sekjen Agerlip PGM Indonesia)
