Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 278)
Generasi Z hidup di tengah
ledakan informasi yang bergerak lebih cepat dibanding kemampuan manusia
memeriksanya. Dalam hitungan detik, ribuan konten muncul di layar ponsel, mulai
dari hiburan, opini, hingga berita yang belum tentu benar. Di sinilah persoalan
besar muncul. Banyak orang merasa modern karena aktif di media sosial, padahal
belum tentu memiliki literasi digital yang kuat.
Fenomena ini menjadi
perhatian serius Agerlip PGM Indonesia melalui Webinar Series bertema
“Membangun Budaya Literasi Gen Z”. Tema tersebut terasa relevan karena
tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sekadar malas membaca buku, tetapi
sulit membedakan mana informasi, mana manipulasi.
Ironisnya, era digital
justru membuat sebagian anak muda lebih mudah percaya pada potongan video
singkat dibanding penjelasan ilmiah yang utuh. Budaya membaca mendalam mulai
tergeser budaya scrolling tanpa arah. Akibatnya, ruang digital dipenuhi
komentar emosional, perdebatan dangkal, bahkan penyebaran hoaks yang dilakukan
tanpa sadar.
Literasi hari ini tidak
cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca teks. Literasi modern adalah kemampuan
berpikir kritis, memahami konteks, memeriksa sumber, lalu mengambil kesimpulan
secara rasional. Jika kemampuan ini lemah, Generasi Z akan mudah digiring opini,
tren sesaat, bahkan propaganda digital.
Karena itu, webinar yang
menghadirkan akademisi, penulis, dan pegiat literasi seperti Momon Sudarma dan
Nurul Jubaedah menjadi penting. Diskusi semacam ini dibutuhkan agar ruang
digital tidak hanya dipenuhi konten viral, tetapi juga gagasan yang
mencerahkan.
Indonesia membutuhkan
Generasi Z yang tidak hanya cepat mengetik komentar, tetapi juga kuat dalam
membaca realitas. Sebab di masa depan, perang terbesar mungkin bukan lagi soal
teknologi, melainkan kemampuan manusia memahami informasi dengan akal sehat.
Posting Komentar