Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 253)
Memasuki hari ke-12
Ramadan, semangat berbagi di tengah masyarakat terasa semakin menguat. Paket
takjil dibagikan di jalan, santunan digelar di berbagai tempat, dan undangan
buka bersama terus berdatangan. Pemandangan ini tentu menggembirakan. Namun, di
balik semarak itu, ada satu pertanyaan penting yang jarang diajukan: apakah
cara kita bersedekah sudah benar-benar tepat guna?
Banyak dari kita bersedekah
karena ingin meneladani Rasulullah yang dikenal sebagai sosok paling dermawan,
terlebih di bulan Ramadan. Niat ini mulia dan patut dijaga. Masalahnya, praktik
di lapangan sering kali masih didominasi pola lama: serba makanan, serba
seremonial, dan kadang berlebih.
Tidak sedikit makanan
berbuka yang akhirnya terbuang karena penerima sudah menerima dari banyak
sumber. Di titik ini, sedekah berisiko kehilangan nilai maslahatnya. Padahal,
esensi sedekah bukan pada seberapa banyak yang dibagikan, tetapi seberapa besar
manfaat yang dirasakan penerima.
Sudut pandang ini penting
digeser. Sedekah seharusnya mulai berorientasi kebutuhan, bukan sekadar
kebiasaan. Mungkin bagi sebagian keluarga dhuafa, yang lebih mendesak bukan
paket takjil, melainkan biaya sekolah anak, modal usaha kecil, atau dukungan
pendidikan.
Ramadan H12 bisa menjadi
momentum evaluasi. Kita tetap berbagi, tetapi dengan cara yang lebih cerdas dan
berdampak jangka panjang. Sedekah produktif seperti beasiswa, bantuan alat
kerja, atau dukungan bagi guru honorer patut mulai diperluas.
Berbagi itu indah, tetapi
berbagi yang tepat sasaran jauh lebih bermakna. Ramadan masih panjang. Masih
ada waktu untuk memperbaiki cara kita menebar kebaikan.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

Posting Komentar