Ramadan H20 Tilawah Quran: Lebih dari Sekadar Lomba

 


Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 261)



Ramadan sering disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Di bulan ini, suara tilawah kembali menggema di masjid, mushala, bahkan di rumah-rumah. Banyak orang berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an, mengikuti tadarus, atau menyaksikan Musabaqah Tilawatil Quran yang disiarkan di berbagai daerah.

 

 

Namun ada pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri: apakah tilawah hanya berarti membaca Al-Qur’an dengan suara indah?

 

 

Bagi sebagian orang, tilawah identik dengan lomba MTQ. Mereka membayangkan qari dan qariah yang melantunkan ayat dengan lagu-lagu merdu seperti bayyati, hijaz, atau husaini. Memang, tradisi ini memiliki nilai penting karena menjaga keindahan dan kemurnian cara membaca Al-Qur’an sebagaimana diajarkan dari generasi ke generasi.

 

 

Tetapi jika tilawah berhenti pada suara, kita sebenarnya baru menyentuh permukaan.

 

 

Kata tilawah berasal dari kata tala yang berarti mengikuti dengan sangat dekat. Artinya, tilawah bukan hanya membaca, tetapi juga mengikuti petunjuk Al-Qur’an dalam kehidupan. Di sinilah makna tilawah menjadi jauh lebih luas dan menantang.

 

 

Pertama, membaca Al-Qur’an dengan benar sebagaimana diajarkan Rasulullah. Inilah sebabnya mengapa belajar Al-Qur’an dalam tradisi Islam selalu melibatkan guru. Bukan sekadar membaca sendiri, tetapi memastikan bacaan itu tersambung dengan tradisi yang sahih.

 

 

Kedua, memahami makna Al-Qur’an. Membaca tanpa memahami sering membuat ayat hanya berhenti di lisan. Padahal Al-Qur’an diturunkan untuk dipikirkan, direnungkan, dan dijadikan petunjuk hidup.

 

 

Ketiga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Ini adalah tahap yang paling sulit. Banyak orang mampu membaca dan menghafal, tetapi tidak semua mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam bersikap, bekerja, dan berinteraksi dengan sesama.

 

 

Keempat, menyebarkan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial. Al-Qur’an berbicara tentang keadilan, ilmu pengetahuan, kejujuran, dan kemaslahatan umat. Tilawah yang sejati seharusnya melahirkan masyarakat yang menjunjung nilai-nilai tersebut.

 

 

Di sinilah Ramadan menjadi momentum penting. Bulan ini tidak hanya mengajak kita memperbanyak bacaan Al-Qur’an, tetapi juga memperdalam hubungan kita dengan pesan-pesannya.

 

 

Jika tilawah hanya berhenti pada suara, kita mungkin hanya menjadi pembaca. Tetapi jika tilawah berlanjut pada pemahaman, pengamalan, dan dakwah, kita sedang berjalan mengikuti jejak Al-Qur’an itu sendiri.

 

 

Ramadan hari ke-20 adalah waktu yang tepat untuk bertanya kembali: apakah kita hanya membaca Al-Qur’an, atau benar-benar mengikuti petunjuknya?

 

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم