Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 262)
Ramadan memasuki hari
ke-21. Artinya, umat Islam telah berada di fase paling menentukan dari bulan
suci ini. Sepuluh malam terakhir bukan sekadar penutup Ramadan, tetapi justru
menjadi puncak dari seluruh perjalanan spiritual selama sebulan penuh. Di
sinilah ibadah i’tikaf kembali menemukan relevansinya.
I’tikaf sering dipahami
secara sederhana sebagai berdiam diri di masjid. Padahal maknanya jauh lebih
dalam. Ia adalah upaya sadar untuk menepi dari hiruk pikuk kehidupan, memberi
ruang bagi hati untuk kembali berbicara dengan Tuhannya.
Dalam realitas kehidupan
modern, manusia nyaris tidak memiliki ruang sunyi. Telepon genggam selalu
berbunyi, notifikasi media sosial datang tanpa henti, pekerjaan mengejar hingga
ke ruang pribadi. Ramadan sebenarnya hadir untuk memutus sementara arus tersebut,
namun banyak orang justru tetap terjebak dalam kesibukan yang sama.
Di titik inilah i’tikaf
menawarkan solusi spiritual yang sederhana tetapi kuat. Dengan berada di
masjid, seseorang secara alami memutus sebagian besar distraksi dunia. Waktu
yang biasanya habis untuk percakapan digital, perjalanan, atau pekerjaan
tambahan, digantikan dengan tilawah Al-Qur’an, zikir, dan salat malam.
Namun i’tikaf tidak harus
selalu dimaknai secara kaku. Tidak semua orang mampu bermalam penuh di masjid
karena tanggung jawab keluarga atau pekerjaan. Spirit i’tikaf sebenarnya adalah
menciptakan ruang kesunyian untuk refleksi diri. Jika tidak memungkinkan
bermalam, seseorang masih bisa meluangkan beberapa jam setelah tarawih untuk
fokus beribadah tanpa gangguan.
Ramadan H21 seharusnya
menjadi alarm spiritual. Jika dua puluh hari pertama berlalu dengan rutinitas
biasa, sepuluh malam terakhir adalah kesempatan memperbaikinya. Para ulama
sering mengingatkan bahwa kualitas akhir Ramadan sering kali menentukan
keseluruhan nilai ibadah selama sebulan.
Karena itu, langkah praktis
perlu dilakukan. Pertama, kurangi aktivitas yang tidak penting pada malam hari.
Kedua, tentukan target ibadah seperti jumlah tilawah atau waktu zikir. Ketiga,
biasakan hadir di masjid lebih lama daripada hari-hari sebelumnya.
I’tikaf pada akhirnya bukan
sekadar tradisi Ramadan. Ia adalah latihan mengembalikan keseimbangan hidup:
antara dunia yang bising dan hati yang membutuhkan ketenangan.
Dan mungkin, di tengah
keheningan malam-malam terakhir itulah, seseorang menemukan kembali arah
hidupnya.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

إرسال تعليق