Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 260)
Di banyak kampung, Ramadan bukan hanya tentang puasa dan tarawih. Ada satu
tradisi yang diam-diam menjadi denyut kehidupan malam: tadarusan. Di tempat
lain disebut tadarus Al-Qur’an. Namun di sebagian masyarakat, istilah tadarusan
terasa lebih akrab, lebih membumi.
Kata tadarus berasal dari
bahasa Arab darasa, yang berarti mempelajari dengan sungguh-sungguh. Artinya,
membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf demi huruf. Ada proses
belajar, memahami, dan saling mendengarkan.
Namun ketika sampai di
kampung-kampung, istilah itu berubah menjadi tadarusan. Sebuah istilah yang
sederhana, tapi justru menunjukkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam budaya
masyarakat.
Setelah salat tarawih,
masjid atau musala biasanya tidak langsung sepi. Anak-anak, remaja, hingga
orang tua masih duduk melingkar. Satu orang membaca beberapa ayat, yang lain
menyimak. Kadang terbata-bata, kadang lancar. Tidak ada lomba cepat. Tidak ada
target ambisius. Yang ada hanya kebersamaan membaca kitab suci.
Di zaman serba cepat
seperti sekarang, tadarusan sebenarnya menawarkan sesuatu yang langka: waktu
untuk berhenti sejenak.
Ironisnya, sebagian orang
justru mengubah tadarus menjadi semacam “kejar target”. Ada yang ingin khatam
secepat mungkin. Bahkan membaca begitu cepat hingga nyaris tak sempat merasakan
maknanya.
Padahal Al-Qur’an sendiri
memerintahkan untuk membaca dengan tartil, perlahan, dengan penghayatan.
Tadarusan mengingatkan
bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang harus ditamatkan, tetapi pesan yang
perlu direnungkan.
Tradisi ini juga memperlihatkan
sesuatu yang menarik: Islam tidak hanya hidup di kitab-kitab tebal para ulama,
tetapi juga hidup di serambi masjid desa, di tikar sederhana, di suara
anak-anak yang masih belajar mengeja ayat.
Di situlah sebenarnya
kekuatan tadarusan.
Ia bukan sekadar kegiatan
membaca Al-Qur’an, tetapi cara masyarakat menjaga hubungan dengan wahyu,
sekaligus menjaga hubungan dengan sesama.
Mungkin itulah sebabnya
tradisi ini terus bertahan dari generasi ke generasi.
Karena tadarusan bukan
hanya tentang berapa juz yang selesai dibaca. Tetapi tentang bagaimana
Al-Qur’an tetap dibaca, didengar, dan dihidupkan bersama.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

إرسال تعليق