Ramadan H19: Tadarusan, Tradisi Mengaji yang Menyatukan

 

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 260)

 


Di banyak kampung, Ramadan bukan hanya tentang puasa dan tarawih. Ada satu tradisi yang diam-diam menjadi denyut kehidupan malam: tadarusan. Di tempat lain disebut tadarus Al-Qur’an. Namun di sebagian masyarakat, istilah tadarusan terasa lebih akrab, lebih membumi.

 

 

Kata tadarus berasal dari bahasa Arab darasa, yang berarti mempelajari dengan sungguh-sungguh. Artinya, membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf demi huruf. Ada proses belajar, memahami, dan saling mendengarkan.

 

 

Namun ketika sampai di kampung-kampung, istilah itu berubah menjadi tadarusan. Sebuah istilah yang sederhana, tapi justru menunjukkan bagaimana Al-Qur’an hidup dalam budaya masyarakat.

 

 

Setelah salat tarawih, masjid atau musala biasanya tidak langsung sepi. Anak-anak, remaja, hingga orang tua masih duduk melingkar. Satu orang membaca beberapa ayat, yang lain menyimak. Kadang terbata-bata, kadang lancar. Tidak ada lomba cepat. Tidak ada target ambisius. Yang ada hanya kebersamaan membaca kitab suci.

 

 

Di zaman serba cepat seperti sekarang, tadarusan sebenarnya menawarkan sesuatu yang langka: waktu untuk berhenti sejenak.

 

 

Ironisnya, sebagian orang justru mengubah tadarus menjadi semacam “kejar target”. Ada yang ingin khatam secepat mungkin. Bahkan membaca begitu cepat hingga nyaris tak sempat merasakan maknanya.

 

 

Padahal Al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk membaca dengan tartil, perlahan, dengan penghayatan.

 

 

Tadarusan mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang harus ditamatkan, tetapi pesan yang perlu direnungkan.

 

 

Tradisi ini juga memperlihatkan sesuatu yang menarik: Islam tidak hanya hidup di kitab-kitab tebal para ulama, tetapi juga hidup di serambi masjid desa, di tikar sederhana, di suara anak-anak yang masih belajar mengeja ayat.

 

 

Di situlah sebenarnya kekuatan tadarusan.

 

 

Ia bukan sekadar kegiatan membaca Al-Qur’an, tetapi cara masyarakat menjaga hubungan dengan wahyu, sekaligus menjaga hubungan dengan sesama.

 

 

Mungkin itulah sebabnya tradisi ini terus bertahan dari generasi ke generasi.

 

 

Karena tadarusan bukan hanya tentang berapa juz yang selesai dibaca. Tetapi tentang bagaimana Al-Qur’an tetap dibaca, didengar, dan dihidupkan bersama.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم