Ramadan H15 Bukber Ramadan: Dari Sunnah Menjadi Budaya Dunia

 


Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 256)



 

Ramadan hari ke-15 sering terasa berbeda. Setengah perjalanan puasa telah dilewati, ritme ibadah mulai stabil, dan undangan buka bersama semakin sering berdatangan. Dari grup keluarga, teman sekolah, rekan kerja, sampai komunitas lama yang tiba-tiba aktif kembali. Bukber seolah menjadi agenda sosial paling terkenal selama Ramadan.

 

 

Namun di balik keseruan itu, ada satu hal menarik: buka bersama ternyata bukan sekadar kebiasaan sosial. Ia lahir dari ajaran agama yang sangat sederhana tetapi kuat. Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Salah satunya adalah kebahagiaan ketika berbuka. Dari situlah lahir tradisi berbagi makanan kepada orang yang berpuasa.

 

 

Dalam perjalanan waktu, ajaran ini tidak berhenti sebagai praktik ibadah pribadi. Ia berkembang menjadi budaya sosial yang khas. Di Indonesia, buka bersama tidak hanya menjadi acara makan setelah azan magrib. Ia berubah menjadi ruang pertemuan, ruang memaafkan, bahkan ruang menyambung kembali hubungan yang lama terputus.

 

 

Menariknya lagi, bukber di Indonesia sering kali melibatkan banyak kalangan. Tidak hanya umat Islam. Kita sering melihat teman non-Muslim ikut hadir dalam acara buka bersama. Bahkan ada kantor, sekolah, atau komunitas yang menyelenggarakan bukber lintas agama. Di meja makan yang sama, orang-orang berbagi cerita, tawa, dan tentu saja makanan.

 

 

Di sinilah keunikan budaya kita terlihat. Ajaran agama diterjemahkan dengan pendekatan budaya yang ramah dan terbuka. Islam tidak hanya hadir sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai inspirasi lahirnya tradisi sosial yang mempersatukan.

Karena itu, bukber sebenarnya bukan sekadar makan bersama. Ia adalah simbol kebahagiaan berbagi. Ia adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menguatkan rasa kebersamaan.

 

 

Mungkin inilah alasan mengapa tradisi buka bersama terasa begitu hidup di Indonesia. Ia bukan hanya tentang kurma dan kolak di meja makan. Ia tentang manusia yang kembali saling mendekat di bulan yang sama: Ramadan.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم