Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 248)
Memasuki hari kedelapan
Ramadan, suasana puasa biasanya mulai terasa “nyata”. Euforia awal sudah lewat,
tubuh mulai beradaptasi, tetapi justru di titik inilah ujian kesabaran yang
sebenarnya muncul. Bukan lagi soal menahan lapar, melainkan menahan diri dari
kebiasaan serba cepat yang sudah mengakar dalam kehidupan modern.
Kita hidup di zaman instan.
Pesan makanan cukup lewat aplikasi, informasi datang dalam hitungan detik,
bahkan kesuksesan sering dipromosikan seolah bisa diraih secara kilat. Tanpa
sadar, pola pikir ini merembes ke cara kita memandang proses hidup. Kita ingin
hasil cepat, kadang tanpa kesediaan menempuh jalan yang benar dan panjang.
Di sinilah puasa bekerja
dengan cara yang unik dan, boleh dibilang, “melawan arus”. Saat makanan halal
tersedia di depan mata, kita justru diminta menunggu. Saat emosi terpancing,
kita diminta menahan. Saat ingin bereaksi cepat, kita diajak jeda. Puasa bukan
sekadar ibadah fisik, tetapi latihan manajemen diri yang sangat relevan dengan
krisis kesabaran hari ini.
Menariknya, banyak konflik
kecil dalam kehidupan pertengkaran keluarga, debat panas di media sosial, hingga keputusan
gegabah dari satu akar yang sama: ketidakmampuan menunda respons. Kita ingin
segera menang, segera puas, segera selesai. Padahal, banyak hal justru rusak
karena tergesa.
Ramadan hari kedelapan
seharusnya menjadi momen evaluasi. Apakah puasa kita baru sebatas menahan
lapar, atau sudah mulai melatih kontrol diri? Apakah kita masih reaktif seperti
sebelum Ramadan, atau mulai lebih tenang menghadapi situasi?
Kesabaran bukan sikap
pasif. Ia adalah stamina mental. Ia adalah kemampuan tetap konsisten di jalan
yang benar meski hasil belum terlihat. Ramadan mengingatkan kita: hidup ini
proses panjang, bukan lomba sprint.
Jika sampai hari kedelapan
kita mulai belajar menunda, menahan, dan menimbang, berarti puasa kita sedang
bekerja. Jika belum, mungkin kita perlu mengulang niat dan
kembali belajar sabar dari hal paling sederhana hari ini.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

إرسال تعليق