Mulyawan Safwandy Nugraha *)
Setiap Ramadhan saya bertanya pada diri sendiri. Apakah puasa membuat saya lebih sabar. Atau hanya lebih lapar. Kita bisa menahan makan seharian. Tetapi satu komentar kecil saja kadang cukup untuk merusak suasana hati. Di situ saya sadar. Masalahnya bukan pada perut. Masalahnya ada pada ego yang masih ingin dihargai.
Saat kita merasa diserang, otak bereaksi cepat. Amygdala membaca ancaman. Tubuh menegang. Emosi naik. Daniel Goleman menyebutnya amygdala hijack. Emosi mengambil alih. Logika mundur. Kita menjawab sebelum berpikir. Kita membalas sebelum memahami. Setelah itu, sering kali kita menyesal.
Puasa melatih kita menghentikan pola itu. Kita lapar. Kita haus. Tetapi kita tidak langsung memenuhi dorongan. Kita belajar menunda. Latihan ini sederhana. Namun dampaknya besar. Kita sedang membangun kendali diri. Kita memberi kesempatan akal untuk bekerja sebelum emosi berbicara.
Rasulullah mengajarkan, jika dicaci saat berpuasa, katakan bahwa kita sedang berpuasa. Kalimat ini seperti rem. Ia mengingatkan bahwa kita sedang berlatih. Kita tidak perlu menanggapi semua serangan. Tidak semua ucapan layak dibalas. Diam kadang lebih kuat daripada argumen panjang.
Al-Qur’an menyebut orang bertakwa sebagai mereka yang menahan amarah dan memaafkan. Menahan bukan berarti lemah. Itu berarti mampu mengelola diri. Memaafkan bukan kalah. Itu tanda hati yang luas. Orang yang stabil tidak runtuh oleh kritik. Ia juga tidak terbang oleh pujian.
Saya melihat banyak orang rajin ibadah, tetapi mudah tersinggung. Sedikit perbedaan langsung dianggap ancaman. Mungkin karena harga diri masih rapuh. Ia masih bergantung pada penilaian orang. Ramadhan mengajak kita memindahkan sandaran itu. Bukan pada manusia. Tetapi pada Allah. Saat sandaran benar, komentar orang tidak mudah mengguncang.
Puasa juga memberi ruang jeda. Biasanya kita reaktif. Sekarang kita belajar reflektif. Kita berhenti beberapa detik sebelum menjawab. Kita bertanya, apakah ini penting. Apakah respons saya akan memperbaiki keadaan. Atau justru memperkeruh. Jeda kecil itu sering menyelamatkan banyak hal.
Kemarahan seperti api. Jika dibiarkan, ia membakar diri sendiri lebih dulu. Saat energi fisik turun karena puasa, api itu mudah muncul. Justru di situ latihannya. Kita memilih lembut ketika lelah. Kita memilih sabar ketika tergoda membalas. Itu bukan sikap pasif. Itu kekuatan batin.
Puasa juga melatih empati. Saat kita merasakan lapar, kita ingat bahwa orang lain pun punya beban. Mungkin ia berbicara keras karena sedang tertekan. Mungkin ia sinis karena kecewa. Kesadaran ini membuat kita lebih bijak. Kita tidak buru-buru tersinggung. Kita mencoba memahami sebelum bereaksi.
Jika setelah Ramadhan kita masih mudah marah oleh hal kecil, berarti latihan belum selesai. Puasa seharusnya melahirkan jiwa yang tenang. Jiwa yang tidak sibuk tersinggung, tetapi sibuk memperbaiki diri. Kita tetap punya rasa marah. Namun kita tidak dikuasai olehnya. Itulah tanda puasa bekerja. Bukan hanya di tubuh. Tetapi di kedalaman jiwa.
*) Penulis adalah Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia, Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN SGD Bandung, Dosen luar biasa pada Institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumii, Institut Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi, serta diamanahi menjadi Pengurus MUI Kota Sukabumi sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Periode 2025-2030.
إرسال تعليق