Ramadhan dan Refleksi tentang Jabatan dan Amanah

                                                             


Mulyawan Safwandy Nugraha 


Ramadhan selalu datang dengan cara yang aneh. Ia tidak pernah sekadar membawa lapar dan haus, tapi juga membawa cermin. Cermin yang kadang saya hindari. Ketika bicara tentang amanah jabatan, saya tidak langsung teringat pada pejabat tinggi atau kursi empuk di gedung besar. Saya justru teringat pada diri sendiri. Pada keputusan-keputusan kecil yang saya ambil. Pada tanggung jawab yang kadang saya anggap biasa saja, padahal mungkin di situlah Allah sedang menguji saya.


Allah berfirman dalam QS An Nisa ayat 58, bahwa Allah memerintahkan kita untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak. Nabi juga mengingatkan, kullukum raain wa kullukum masulun an raiyyatihi. Setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban. Ayat dan hadis ini terlalu sering saya dengar. Terlalu familiar. Sampai-sampai kadang kehilangan daya getarnya. Padahal jika direnungkan pelan-pelan, kalimat itu seperti palu kecil yang mengetuk hati.


Amanah itu berat. Al Quran bahkan menggambarkan bahwa langit, bumi, dan gunung menolak memikulnya. Manusia yang menerimanya. Saya sering bertanya dalam hati, kenapa kita begitu ringan mengejar jabatan, sementara alam semesta saja menolak beban itu. Mungkin karena kita melihatnya sebagai kehormatan, bukan sebagai tanggung jawab. Kita melihat fasilitasnya, bukan hisabnya. Kita melihat tepuk tangan, bukan pertanyaan Allah di hari akhir.


Saya pernah merasa bangga ketika dipercaya memegang suatu posisi. Ada rasa dihargai. Ada rasa diakui. Tapi di tengah kebanggaan itu, ada bisikan kecil yang mengganggu. Apakah saya memang layak, atau hanya terlihat layak. Apakah saya siap memikul amanahnya, atau hanya menikmati sebutannya. Di situlah saya sadar, jabatan bukan sekadar soal kapasitas, tapi soal kejujuran pada diri sendiri.


Dalam kehidupan sehari-hari, pengkhianatan amanah tidak selalu berbentuk korupsi besar yang masuk berita. Ia bisa hadir dalam bentuk yang lebih halus. Menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan hari ini. Mengambil keputusan karena kedekatan, bukan karena kelayakan. Menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi. Hal-hal kecil yang terasa sepele, tapi pelan-pelan menggerogoti integritas. Kita mungkin merasa aman karena tidak ada yang tahu. Padahal justru di situlah ujian puasa bekerja. Allah tahu.


Ramadhan mengajarkan satu hal penting, pengawasan internal. Kita tidak makan bukan karena tidak ada makanan. Kita tidak minum bukan karena tidak ada air. Kita menahan diri karena sadar Allah melihat. Jika kesadaran ini bisa kita bawa ke ruang kerja, ke ruang rapat, ke meja pelayanan, mungkin banyak keputusan akan berubah. Mungkin banyak keputusn yang lebih adil lahir dari hati yang takut pada Allah, bukan takut pada atasan.


Saya juga belajar bahwa jabatan itu bukan hadiah. Ia ujian. Nabi pernah berkata kepada Abu Dzar bahwa jabatan itu amanah, dan pada hari kiamat bisa menjadi penyesalan bagi yang tidak menunaikannya dengan benar. Hadis ini terasa keras, tapi sebenarnya penuh kasih. Ia seperti orang tua yang memperingatkan anaknya sebelum melangkah ke jalan yang licin. Jangan terlalu percaya diri. Jangan merasa kuat. Karena amanah bisa menjatuhkan siapa saja yang lengah.


Kadang saya melihat diri sendiri lebih keras mengkritik orang lain dibanding mengoreksi diri. Padahal mungkin saya pun melakukan kesalahan yang sama dalam versi yang lebih kecil. Kita mudah menunjuk pejabat yang salah, tapi lupa menilai bagaimana kita memimpin keluarga, tim kecil, atau bahkan diri sendiri. Kita ingin pemimpin yang bersih, tapi apakah kita sudah bersih dalam tanggung jawab yang Allah titipkan kepada kita. Atau jangan-jangan kita hanya pandai berbicara, tapi miskin introspeksi.


Di akhir Ramadhan nanti, jabatan apa pun yang kita sandang tidak akan ikut masuk ke liang kubur. Yang ikut hanya amal dan jejak keputusan kita. Setiap tanda tangan, setiap kebijakan, setiap sikap. Semua akan ditanya. Bukan oleh publik, tapi oleh Allah yang Maha Mengetahui detail yang bahkan kita lupa. Di titik itu, gelar tidak lagi penting. Yang penting adalah apakah amanah itu kita jaga atau kita khianati.


Maka sebelum kita sibuk menilai pemimpin di luar sana, mungkin ada baiknya kita duduk sebentar dan bertanya pelan pada diri sendiri. Amanah kecil yang ada di tangan saya hari ini, sudahkah saya tunaikan dengan jujur. Atau saya masih mencari alasan, menyusun pembenaran, dan menunda perubahan. Jika hari ini Allah memanggil saya, apa yang akan saya jawab tentang jabatan yang pernah saya pegang.


Wallahu a'lamu


*) Penulis adalah Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia, Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN SGD Bandung, Dosen luar biasa pada Institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumii, Institut Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi, serta diamanahi sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi  MUI Kota Sukabumi Periode 2025-2030.

Post a Comment

أحدث أقدم