Ramadan H2: Puasa Ramadan dan Lima Tujuan Syariat

 



Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 240)



 

Ramadan selalu datang dengan suasana yang sama: masjid ramai, jadwal sahur dibagikan, dan media sosial dipenuhi ucapan selamat berpuasa. Namun, di tengah rutinitas itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: apakah puasa kita benar-benar bekerja sebagaimana tujuan syariat?

 

 

Pemikiran Imam Al-Ghazali memberi kacamata yang lebih tajam. Ia menegaskan bahwa syariat termasuk puasa tidak turun tanpa arah. Ada lima tujuan besar yang ingin dijaga: agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Jika lima ini tidak tersentuh, puasa berisiko tinggal formalitas.

 

 

Pertama, menjaga agama. Puasa seharusnya memperkuat konsistensi keberagamaan, bukan hanya meramaikan awal Ramadan lalu mengendur di pertengahan. Kedua, menjaga akal. Ironisnya, masih ada yang berpuasa tetapi mudah marah di jalan, di kantor, bahkan di rumah. Ini tanda puasa belum menyentuh disiplin batin.

 

 

Ketiga, melindungi kehidupan. Puasa mestinya melahirkan akhlak yang lebih lembut dan empatik. Jika setelah sebulan emosi masih mudah meledak, mungkin yang ditahan baru lapar, belum ego. Keempat, menjaga keturunan. Ramadan adalah momentum memperbaiki kualitas relasi keluarga, bukan sekadar sibuk dengan agenda pribadi.

 

 

Kelima, menjaga harta. Puasa mengajarkan kejujuran ekonomi: mencari rezeki halal dan menahan diri dari yang bukan hak. Ini aspek yang sering luput, padahal sangat konkret.

 

 

Di titik ini, Ramadan sebenarnya adalah program pembentukan karakter paling lengkap. Ia bukan sekadar ritual tahunan, melainkan desain peradaban. Pertanyaannya sederhana: setelah Ramadan berlalu, apakah lima tujuan itu ikut hidup dalam diri kita, atau puasa kembali berhenti di rasa lapar semata?


Sumber : Youtube Kemdikdasmen

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama