Supervisi Kepala Sekolah Seharusnya Membina, Bukan Mencari Salah Guru



Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen PPs UIN Sunan GUnung Djati Bandung

Ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia


Supervisi di sekolah/madrasah sering terdengar menegangkan bagi guru. Ketika kepala sekolah/madrasah masuk ke kelas, sebagian guru merasa sedang diperiksa. Ketika perangkat pembelajaran diminta, guru merasa sedang dinilai. Ketika catatan evaluasi diberikan, guru merasa sedang dicari kekurangannya. Pandangan seperti ini tidak muncul tiba-tiba. Ia lahir dari praktik supervisi yang terlalu lama dipahami sebagai kontrol administratif, bukan sebagai proses pembinaan profesional.


Dalam konteks pendidikan hari ini, cara pandang seperti itu perlu dikoreksi. Guru menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit dibanding beberapa tahun lalu. Mereka harus menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan anak, tuntutan orang tua, perubahan kurikulum, literasi digital, administrasi daring, dan kebutuhan pembentukan karakter. Pada pendidikan anak usia dini, tantangan ini lebih sensitif karena guru berhadapan dengan anak pada fase dasar perkembangan emosi, sosial, bahasa, dan kemandirian.


Tesis Nanang Iskandar berjudul Pengelolaan Sumber Daya Manusia dalam Penguatan Profesionalisme Guru: Studi Kasus di TK Islam Al Azhar Syifa Budi Parahyangan memberi bahan refleksi penting tentang supervisi. Penelitian ini dilakukan di TK Islam Al Azhar Syifa Budi Parahyangan, Komplek Cimareme Indah, Kelurahan Cimareme, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Tesis ini disusun pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2026.


Salah satu pesan yang dapat dibaca dari tesis tersebut adalah bahwa supervisi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan menilai guru. Supervisi harus menjadi bagian dari manajemen sumber daya manusia yang bertujuan memperkuat profesionalisme guru. Artinya, kepala sekolah tidak cukup hadir sebagai pengawas. Kepala sekolah perlu hadir sebagai pembina, pendamping, dan coach bagi guru.


Dalam praktik lama, supervisi sering menekankan kelengkapan dokumen. Rencana pembelajaran diperiksa. Administrasi dilihat. Kehadiran dinilai. Kerapian kelas diamati. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Guru PAUD tidak hanya membutuhkan koreksi administrasi. Mereka membutuhkan dialog tentang cara menghadapi anak yang sulit fokus, cara membangun komunikasi dengan orang tua, cara menanamkan nilai agama secara menyenangkan, dan cara mengelola kelas tanpa menekan anak.


Supervisi yang membina harus dimulai dari perubahan sikap kepala sekolah. Kepala sekolah perlu masuk ke ruang guru bukan sebagai hakim, tetapi sebagai mitra belajar. Guru tidak boleh dibuat takut untuk menunjukkan kelemahannya. Justru dari kelemahan itulah pembinaan dimulai. Jika guru menyembunyikan masalah karena takut disalahkan, maka supervisi kehilangan fungsi utamanya.

Dalam konteks kekinian, kepala sekolah perlu mengembangkan pendekatan coaching. Coaching bukan ceramah panjang dari atasan kepada bawahan. 


Coaching adalah proses membantu guru menemukan masalah, membaca potensi, dan menyusun langkah perbaikan. Kepala sekolah dapat bertanya, apa yang paling sulit dalam pembelajaran minggu ini? Anak mana yang membutuhkan pendekatan khusus? Strategi apa yang sudah dicoba? Dukungan apa yang dibutuhkan guru?


Pertanyaan seperti itu lebih membangun daripada sekadar memberi komentar bahwa metode guru kurang variatif atau administrasinya belum lengkap. Guru yang diajak berdialog akan lebih mudah menerima masukan. Guru yang merasa didampingi akan lebih berani memperbaiki diri. Sebaliknya, guru yang hanya dikritik biasanya akan defensif, takut mencoba hal baru, atau sekadar bekerja untuk memenuhi standar formal.


Pada lembaga PAUD Islam, supervisi juga memiliki dimensi yang lebih luas. Guru tidak hanya membimbing kemampuan kognitif anak, tetapi juga membangun akhlak, kebiasaan ibadah, adab, empati, dan kedekatan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Maka, supervisi tidak cukup menilai apakah guru sudah menjalankan kegiatan belajar. Supervisi juga perlu membaca apakah guru mampu menjadi teladan, membangun kedekatan emosional, dan menanamkan nilai secara wajar sesuai dunia anak.


Namun, dimensi spiritual tidak boleh membuat supervisi menjadi normatif. Kepala sekolah tidak cukup meminta guru lebih ikhlas, lebih sabar, atau lebih telaten. Nasihat seperti itu penting, tetapi tidak boleh menggantikan dukungan nyata. Jika guru kesulitan memakai teknologi, bantu dengan pelatihan. Jika guru terbebani administrasi, sederhanakan alurnya. Jika guru kesulitan menghadapi anak tertentu, lakukan diskusi kasus. Jika guru muda kurang matang secara pedagogik, dampingi dengan mentoring. Jika guru senior cemas terhadap perubahan digital, hadirkan klinik IT yang ramah.


Di sini terlihat bahwa supervisi yang baik bukan kegiatan sesaat. Ia harus menjadi siklus. Ada pengamatan, dialog, umpan balik, tindak lanjut, dan evaluasi ulang. Tanpa tindak lanjut, supervisi hanya menjadi catatan. Tanpa dialog, supervisi hanya menjadi instruksi. Tanpa empati, supervisi berubah menjadi tekanan.


Pendidikan hari ini membutuhkan kepala sekolah yang tidak hanya kuat dalam administrasi, tetapi juga kuat dalam membina manusia. Guru adalah pusat mutu pendidikan. Jika guru berkembang, mutu pembelajaran ikut berkembang. Jika guru tertekan, anak-anak ikut merasakan dampaknya. Karena itu, supervisi harus menjadi ruang aman bagi pertumbuhan guru.


Tesis Nanang Iskandar mengingatkan bahwa profesionalisme guru tidak bisa dilepaskan dari cara lembaga mengelola, membina, dan menghargai guru. Dalam kerangka itu, supervisi kepala sekolah menjadi salah satu kunci. Supervisi bukan alat untuk mencari salah. Supervisi adalah jembatan antara kelemahan hari ini dan perbaikan hari esok.


Sekolah dan Madrasah yang ingin maju harus berani mengubah budaya supervisinya. Guru tidak perlu ditakut-takuti agar menjadi profesional. Guru perlu didampingi, diberi umpan balik yang jelas, dan dipercaya untuk tumbuh. Kepala sekolah yang baik bukan yang paling sering menemukan kesalahan guru, tetapi yang paling mampu membantu guru menjadi lebih baik.


Wallaahu a'lamu

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama