Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 250)
Memasuki hari ke-10
Ramadan, banyak dari kita masih memaknai sabar dalam satu arah: bertahan saat
susah. Padahal, ada bentuk sabar yang jauh lebih halus sekaligus lebih
berbahaya untuk diabaikan, yakni sabar saat sedang berjaya.
Kita mudah teringat kepada Allah
ketika hidup terasa sempit. Doa menjadi panjang, sujud terasa lebih lama. Namun
saat rezeki lapang, jabatan naik, atau karya mendapat pengakuan, di situlah
ujian sering datang tanpa suara. Kita merasa semua berjalan normal, padahal
bisa jadi sedang diuji lewat kelimpahan.
Di titik ini, sabar bukan
lagi soal menahan keluh kesah, melainkan menahan diri dari lupa arah. Banyak
orang berubah bukan karena gagal, tetapi karena terlalu lama berhasil. Rasa
syukur perlahan tergeser oleh kebanggaan berlebihan. Kehati-hatian diganti rasa
“saya bisa apa saja”.
Ramadan seharusnya menjadi
rem spiritual. Puasa melatih kita bukan hanya menahan lapar, tetapi juga
mengendalikan ego ketika segala sesuatu terasa mudah diraih. Jika tidak
waspada, keberhasilan bisa melahirkan tiga jebakan: kesombongan, sikap
melampaui batas, dan hilangnya kepekaan sosial.
Di sinilah makna sabar saat
berjaya menjadi sangat relevan. Harta yang bertambah seharusnya memperluas
sedekah, bukan gaya hidup. Jabatan yang naik mestinya memperbesar pelayanan,
bukan jarak dengan masyarakat. Popularitas yang meningkat idealnya memperbanyak
manfaat, bukan sekadar pencitraan.
Ramadan H10 mengingatkan
kita: ujian tidak selalu datang dalam bentuk air mata. Kadang ia hadir dalam
bentuk tepuk tangan. Dan justru pada momen itulah kesabaran paling sejati
sedang dipertaruhkan.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

Posting Komentar