Ramadan H6 Rukhsah Puasa: Islam Tidak Mempersulit

 

Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 245)



 

Ramadan H6 selalu menjadi momen reflektif. Setelah euforia awal puasa mereda, sebagian orang mulai bertanya dalam hati: masih kuat atau mulai terasa berat? Di titik inilah kita perlu kembali memahami satu prinsip penting dalam Islam, bahwa syariat hadir untuk memudahkan, bukan mempersulit.

 

 

Puasa memang wajib bagi mukalaf. Status ini melekat pada muslim yang baligh, berakal, dan memahami seruan agama. Namun kewajiban itu tidak berdiri di ruang hampa. Al-Qur’an sudah menegaskan, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Artinya, standar syariat selalu realistis terhadap kondisi manusia.

 

 

Sayangnya, di lapangan sering muncul dua sikap yang sama-sama kurang tepat. Ada yang terlalu mudah mencari alasan untuk tidak berpuasa. Di sisi lain, ada yang justru memaksakan diri hingga mengabaikan kesehatan. Padahal Islam tidak menghendaki keduanya.

 

 

Rukhsah atau keringanan adalah bukti nyata wajah ramah syariat. Musafir boleh menunda puasa dan menggantinya di hari lain. Orang sakit yang berisiko jika berpuasa juga mendapat kelonggaran untuk qada. Bahkan mereka yang secara permanen tidak mampu, seperti lansia renta, cukup membayar fidyah.

 

 

Di sinilah letak keindahan Islam: tegas dalam prinsip, lentur dalam penerapan. Puasa tetap wajib, tetapi keselamatan jiwa tetap prioritas. Tidak ada heroisme dalam ibadah yang justru merusak diri.

 

 

Ramadan H6 seharusnya menjadi titik kalibrasi niat. Jika masih mampu, lanjutkan puasa dengan penuh kesungguhan. Jika benar-benar ada uzur, gunakan rukhsah dengan jujur, bukan sebagai celah menghindar.

 

 

Karena pada akhirnya, kualitas takwa tidak diukur dari seberapa keras kita memaksa diri, tetapi seberapa patuh kita menjalankan syariat sesuai kemampuan.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم