Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 247)
Memasuki hari ketujuh
Ramadan, banyak orang mulai merasa ritme puasa berubah. Lapar dan haus mungkin
sudah lebih terkendali, tetapi justru di fase inilah ujian yang lebih halus
muncul: apakah puasa benar-benar melatih kesabaran reflektif, atau hanya
sekadar rutinitas menahan diri secara fisik?
Puasa dalam tradisi Islam
dikenal sebagai ibadatut tarbawiyah, ibadah pendidikan. Artinya, Ramadan bukan
hanya soal menahan makan dan minum, melainkan proses pembentukan karakter. Kata
as-siyam sendiri bermakna menahan dan mengendalikan diri. Maka ukuran
keberhasilan puasa seharusnya tidak berhenti pada kuat menahan lapar, tetapi
sejauh mana kita mampu mengelola emosi, keputusan, dan reaksi terhadap keadaan.
Di hari ketujuh ini,
refleksi menjadi penting. Banyak orang mampu menahan diri dari yang membatalkan
puasa, tetapi masih mudah tergesa dalam bersikap, cepat tersulut emosi, atau
enggan melakukan evaluasi diri. Padahal para ulama menegaskan bahwa puasa adalah
setengah dari sabar. Jika sabar belum tumbuh, boleh jadi ruh puasa belum
sepenuhnya bekerja.
Sabar yang dibentuk puasa
bukan sabar pasif. Ia aktif dan sadar. Pertama, melatih kita tidak terburu-buru
dalam mengambil keputusan. Kedua, mengajarkan menerima berbagai keadaan tanpa
kehilangan syukur. Ketiga, mendorong keberanian melihat ke dalam diri sendiri.
Dan keempat, menuntun kita merancang perbaikan setelah menyadari kekurangan.
Ramadan H7 adalah momentum
yang tepat untuk mengukur diri. Apakah puasa kita baru menyentuh perut, atau
sudah mulai membentuk cara berpikir dan bersikap? Jika jawabannya belum, masih
ada waktu untuk memperbaiki arah.
Sebab tujuan akhir puasa
bukan sekadar menuntaskan hari tanpa makan, tetapi pulang dari Ramadan sebagai
pribadi yang lebih tenang, lebih sadar, dan lebih siap menjadi insan bertakwa.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

إرسال تعليق