Oleh
Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 229)
Program Makan Bergizi
Gratis belakangan ini ramai dibicarakan. Awalnya publik fokus pada menu, dapur,
dan distribusi makanan ke sekolah-sekolah. Namun, perlahan percakapan bergeser
ke isu yang lebih sensitif, rasa keadilan. Banyak orang mulai membandingkan
bagaimana negara memperlakukan para pekerja di balik program ini dengan guru
dan tenaga kesehatan yang sudah lama mengabdi.
Di lapangan, muncul cerita
bahwa sopir BGN dan MBG yang mengantar logistik justru menerima gaji lebih
tinggi dibanding guru. Perbandingan ini terasa menohok, bukan karena profesi
sopir tidak penting, tetapi karena guru telah menempuh pendidikan panjang,
mengabdi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, demi mencerdaskan generasi
bangsa. Ketika perlakuan negara terasa berbeda, wajar jika publik bertanya, di
mana letak keadilannya.
Di sisi lain, langkah
pemerintah melalui BGN yang membuka skema P3K bagi tenaga pendukung seperti
ahli gizi, SPPI, dan tenaga administrasi patut diapresiasi. Negara menunjukkan
bahwa hubungan kerja harus jelas, ada perintah, upah, dan status. Bagi sebagian
orang, ini menjadi contoh baik bagaimana ketenagakerjaan seharusnya dikelola.
Namun, apresiasi itu
sekaligus menjadi cermin. Jika status P3K bisa diberikan dengan relatif cepat
kepada tenaga pendukung program, mengapa guru dan tenaga kesehatan yang telah
lama mengabdi masih harus menunggu kepastian. Harapan publik sederhana, efek
domino dari kebijakan ini semestinya mendorong penyelesaian P3K bagi seluruh
tenaga pendidik dan kesehatan.
Terlepas dari polemik
tersebut, MBG tetaplah program dengan niat mulia. Tujuannya jelas, memperbaiki
kualitas gizi dan menurunkan angka stunting. Di banyak desa, program ini
disambut antusias. Anak-anak senang, orang tua merasa terbantu, dan ekonomi
lokal ikut bergerak melalui dapur-dapur yang mulai tumbuh.
Meski begitu, ada catatan
penting yang tak boleh diabaikan. Fokus MBG masih lebih banyak terlihat di
wilayah perkotaan, sementara daerah 3T justru jarang terdengar kabarnya.
Padahal, kantong kemiskinan dan masalah gizi paling berat ada di sana. Jika
keadilan sosial menjadi roh kebijakan, maka wilayah 3T seharusnya menjadi
prioritas utama.
Hal lain yang tak kalah
krusial adalah perhatian pada ibu hamil dan ibu menyusui. Seribu hari pertama
kehidupan menentukan masa depan anak. Tanpa asupan gizi yang cukup pada fase
ini, risiko stunting sulit ditekan. Program apa pun akan kehilangan daya ungkit
jika kelompok paling rentan justru terpinggirkan.
Pada akhirnya, MBG bukan
hanya soal makanan. Ia adalah cermin bagaimana negara memaknai keadilan sosial.
Ketika semua pihak diperlakukan setara, dari guru hingga tenaga pendukung, dari
kota hingga 3T, barulah program ini benar-benar menjadi investasi masa depan
bangsa.

Posting Komentar