Oleh: Adib Nur Aziz, Guru MTsN 7 Sleman
Ustadz Muhammad Jazir ASP
telah meninggal dunia beberapa hari yang lalu dalam usia 63 tahun. Ustadz Jazir,
adalah sosok da’i yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Masjid Jogokariyan
di kota Yogyakarta. Saat ini Masjid Jogokariyan merupakan salah satu masjid
yang menjadi rujukan dari para pengelola masjid di Indonesia. Banyak terobosan
dan inovasi pengelolaan masjid yang sangat baik bagi kemajuan umat. Intinya
adalah masjid bukan sekedar tempat orang beribadah, namun masjid juga merupakan
tempat untuk memberdayakan masyarakat.
Menurut berbagai informasi
yang ada, ternyata beliau adalah salah satu orang yang turut menggagas lahirnya
buku Iqro’, yang digunakan para santri TPA untuk belajar membaca Al-Qur’an. Buku
Iqro’ berkembang sejak tahun 1990-an atau sudah sekitar 35 tahun hingga saat
ini. Sekarang, buku iqro’ masih digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat,
termasuk oleh sekolah-sekolah.
Meskipun Ustadz Jazir bukan
penulis buku Iqro’, namun gagasan akan pentingnya sebuah buku panduan bagi
masyarakat Indonesia untuk bisa membaca Al-Quran dengan mudah salah satunya
berasal dari pemikiran beliau. Gagasan ini muncul sebagai bentuk keprihatinan
beliau saat itu, melihat kaum muslimin tidak bangga dengan agamanya. Maka, cara
yang paling mudah menanamkan cinta dan bangga kepada kaum muslimin kepada
agamanya adalah dengan bisa membaca Al-Qur’an. akhirnya belliau berkomunikasi
dengan Ustadz As’ad Humam dari Kotagede Yogyakarta yang akhirnya melahirkan
buku Iqro’.
Kini, Ustadz Jazir telah
tiada. Namun, tinggalan gagasannya terus hidup di tengah dinamika umat. Buku
Iqro’ masih menjadi referensi utama kaum muslimin di Indonesia sebagai panduan
yang mudah untuk pendidikan membaca Al-Qur’an. Semoga pahala jariyahnya selalu
mengalir kepada almarhum Ustadz Jazir. Sebagai generasi penerus, kita mesti
meneladani spirit yang beliau bawa, bahwa gagasan untuk membangun dan
memperbaiki kondisi umat bernilai pahala jariyah yang luar biasa. Man jadda
wajada!
Posting Komentar