Oleh: Teddy Hermansyah, S.Pd. | Guru MTsN 7 Majalengka, Sekretaris MGMP PP MTs Kab. Majalengka, dan Pengurus MGMP PP MTs Jawa Barat
Menulis merupakan salah satu cara untuk menyampaikan gagasan, membagikan pengetahuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Melalui tulisan, seseorang tidak hanya menyampaikan apa yang dipikirkan, tetapi juga mengajak pembaca memahami persoalan, melihat berbagai sudut pandang, dan mempertimbangkan solusi. Salah satu bentuk tulisan yang dapat menjadi sarana menyampaikan pemikiran tersebut adalah opini.
Materi Webinar Series #8 Agerlip PGM Indonesia mengangkat topik “strategi
mengubah gagasan menjadi tulisan yang bernas dan menarik” yang disampaikan oleh narasumber Bapak Muhammad
Syafii Saragih, MA. Beliau mengpas tuntas pentingnya kemampuan mengolah
ide menjadi tulisan opini yang memiliki arah, argumentasi, dan daya tarik bagi
pembaca.
Apa itu opini?
Opini adalah pandangan penulis terhadap suatu yang disampaikan melalui
pemikiran, penalaran dan argumentasi. Berbeda
dengan berita yang mengutamakan penyampaian fakta secara objektif, tulisan
opini memberikan ruang bagi penulis untuk menyampaikan sudut pandang dan interpretasi
terhadap fakta tersebut. Meskipun demikian, opini yang baik tidak sekadar
berisi pendapat pribadi, tetapi harus didukung oleh informasi yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Opini yang berkualitas mampu menjembatani fakta dan gagasan, menghubungkan persoalan dengan kepentingan publik, serta menghadirkan pemikiran yang memberikan nilai tambah bagi pembaca. Dengan demikian, opini bukan hanya tentang apa yang ingin disampaikan penulis, melainkan juga tentang bagaimana gagasan tersebut dapat memperkaya pemahaman dan mendorong perubahan. “Opini yang bernas bukan sekedar membuat pembaca tahu, tetapi membuat pembaca berpikir,” ujar M. Syafii Saragih.
Mengapa kita harus menulis opini?
Menulis opini bukan sekedar kegiatan menuangkan pikiran ke dalam tulisan.
Lebih dari itu, menulis opini adalah cara seseorang mengambil bagian dalam
kehidupan masyarakat melalui gagasan, pemikiran, dan kritik yang membangun. Opini
memiliki peran penting dalam membangun budaya berpikir kritis, mengembangkan
kemampuan literasi, dan memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam
menyampaikan gagasan.
Pertama, menulis opini menjadi sarana menyampaikan gagasan dan pemikiran
secara terstruktur. Ide yang semula hanya tersimpan dalam pikiran dapat diolah
menjadi tulisan yang mudah dipahami dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Kedua, menulis opini melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Penulis dituntut untuk mengenali persoalan, memeriksa fakta, menimbang berbagai
sudut pandang, serta menyusun argumen yang masuk akal.
Ketiga, opini dapat menjadi sarana edukasi dan advokasi. Melalui
tulisan, penulis dapat mengangkat persoalan pendidikan, kebudayaan, lingkungan,
sosial, maupun kebijakan publik yang membutuhkan perhatian bersama.
Bagi guru dan tenaga pendidik, misalnya, opini dapat menjadi media untuk
menyampaikan praktik baik pembelajaran, mengkritisi persoalan pendidikan secara
konstruktif, dan menawarkan gagasan inovatif bagi peningkatan mutu pendidikan.
Pada akhirnya, menulis opini bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata
di atas kertas atau layar. Menulis opini merupakan bentuk partisipasi
intelektual untuk ikut membangun kesadaran, memperluas wawasan, dan memberikan
sumbangsih pemikiran bagi kemajuan masyarakat.
Apa saja peluang dan tantangan dalam menulis opini?
Perkembangan teknologi informasi dan media digital membuka peluang yang
semakin luas bagi siapa pun untuk memublikasikan gagasannya. Media massa,
portal berita daring, blog, dan berbagai platform publikasi digital dapat
menjadi ruang untuk menyebarluaskan pemikiran kepada khalayak yang lebih luas.
Peluang tersebut dapat dimanfaatkan oleh guru, akademisi, praktisi,
pegiat literasi, maupun masyarakat umum untuk menyampaikan gagasan yang
berangkat dari pengalaman dan kompetensi masing-masing. Persoalan yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari pun dapat menjadi bahan tulisan yang menarik
apabila dikaji secara mendalam dan disajikan dengan sudut pandang yang segar.
Namun, peluang tersebut juga disertai sejumlah tantangan. Salah satunya
adalah kesulitan menemukan gagasan yang memiliki nilai kebaruan dan relevansi.
Banyak orang memiliki ide menarik, tetapi belum mampu merumuskannya menjadi
tulisan yang terarah dan meyakinkan.
Tantangan lainnya adalah persaingan tulisan semakin ketat, mengolah
pengalaman menjadi argumen yang kuat, menjaga orisinilitas dan kedalaman
pemikiran, menghadapi penolakan media dan keterbatasan pembaca, dan menjaga
akurasi fakta dan etika dalam menyampaikan kritik.
Selain itu, penulis perlu menghadapi persaingan perhatian pembaca di
tengah derasnya arus informasi. Tulisan harus mampu menarik perhatian sejak
awal, mempertahankan minat pembaca, dan menghadirkan kesimpulan yang berkesan
tanpa mengorbankan akurasi maupun kedalaman pembahasan.
Oleh karena itu, menulis opini membutuhkan latihan yang berkelanjutan,
kemauan membaca, keterampilan melakukan riset, dan keberanian untuk merevisi
tulisan. Penulis juga perlu bersikap terbuka terhadap kritik serta memahami
karakteristik media yang menjadi tujuan publikasi.
Apa ciri opini yang Bernas dan Menarik?
Opini yang bernas bukanlah tulisan yang sekadar panjang, menggunakan
istilah rumit, atau dipenuhi kalimat retoris. Tulisan yang bernas adalah
tulisan yang memiliki kedalaman pemikiran, kekuatan argumentasi, kejelasan
arah, dan manfaat bagi pembacanya.
Beberapa ciri utama opini yang bernas dan menarik diataranya adalah :
gagasan harus jelas (posisi penulis jelas); pemikiran mendalam (penjelasan
sebab, makna, dan dampak masalah); argumentasi logis (data bukti relevan);
bahasa komunikatif (jelas, hemat, dan tidak betele-tele / melantur); dan ada
kontribusi (solusi atas masalah).
Bagaimana Alur Pembuatan Opini, Dari Gagasan Menjadi Tulisan?
Mengubah gagasan menjadi opini yang bernas membutuhkan proses yang
terencana. Ide yang baik tidak selalu langsung menghasilkan tulisan yang baik.
Gagasan tersebut perlu dipilih, diuji, dikembangkan, dan disunting agar menjadi
tulisan yang utuh.
Alur pembuatan opini dapat dilakukan melalui tahapan berikut: (1) pendahuluan
berisi paparan fenomena; (2) angkat masalah yang terjadi; (3) mencari faktor
internal dan eksternal dari tulisan; dan (4) menawarkan solusi sebagai gagasan
utama.
Pesan penting dari materi ini adalah bahwa setiap orang memiliki peluang untuk menulis, selama bersedia mengamati persoalan, memperkaya wawasan, menguji gagasan, dan melatih kemampuan menuangkannya dalam bahasa yang efektif. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki seseorang dapat menjadi sumber tulisan yang bermakna apabila diolah secara kritis dan disampaikan dengan bertanggung jawab.
Strategi mengubah gagasan menjadi tulisan yang bernas dan menarik pada
hakikatnya merupakan proses mengubah pemikiran menjadi kontribusi nyata. Opini
yang berkualitas tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memperluas
perspektif, membangun kesadaran, dan menawarkan kemungkinan penyelesaian
terhadap berbagai persoalan.
Di tengah perkembangan informasi yang semakin cepat, kemampuan menulis opini menjadi keterampilan penting untuk menyampaikan pemikiran secara terukur, kritis, dan bertanggung jawab. Setiap gagasan yang disusun dengan baik memiliki peluang untuk menjangkau pembaca, membuka ruang dialog, dan menginspirasi perubahan.
Karena itu, langkah terbaik untuk menjadi penulis opini bukanlah
menunggu sampai semua ide terasa sempurna, melainkan mulai menulis, terus
membaca, terbuka terhadap masukan, dan konsisten memperbaiki kualitas tulisan.

