Tarawih Ramadan H13: Ibadah Rileks Sarat Makna

 



Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 254)



 

Ramadan terus berjalan. Tanpa terasa, malam ini kita sudah memasuki Ramadan hari ke-13. Separuh perjalanan ibadah mulai terlihat, dan di banyak masjid, saf-saf tarawih masih dipenuhi jamaah. Namun di balik rutinitas itu, ada satu pertanyaan yang sering luput dipikirkan: mengapa tarawih selalu terasa santai, bahkan seperti ibadah yang memberi ruang untuk bernapas?

 

 

Jawabannya ternyata tidak hanya soal tradisi, tetapi juga sejarah dan fikih.

 

 

Tarawih berasal dari kata “raha” yang berarti istirahat atau rehat. Nama ini bukan kebetulan. Dalam praktik awalnya, tarawih memang dilakukan dengan jeda-jeda istirahat di antara rakaat. Ibadah ini dirancang tidak memberatkan, seolah memberi pesan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga perjalanan spiritual yang dijalani dengan tenang.

 

 

Dalam perspektif fikih, tarawih termasuk ibadah mahdah. Artinya, waktu dan tata caranya sudah memiliki ketentuan jelas. Tarawih hanya ada di bulan Ramadan dan dilaksanakan setelah salat Isya hingga sebelum Subuh. Jika dipindahkan waktunya, maka ia tidak lagi disebut tarawih.

 

 

Menariknya, sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad tidak selalu menunaikan tarawih berjamaah setiap malam. Bahkan ada malam ketika para sahabat menunggu lama di masjid, tetapi beliau tidak keluar. Ketika akhirnya menjelaskan, alasannya sederhana namun penting: agar umat tidak mengira tarawih sebagai ibadah wajib.

 

 

Pesan ini terasa sangat relevan hari ini.

 

 

Di banyak tempat, tarawih kadang berubah menjadi ajang “perlombaan cepat”. Ada yang ingin selesai secepat mungkin, ada yang mengejar jumlah rakaat, bahkan ada yang merasa paling benar dengan model pelaksanaannya.

 

 

Padahal sejak awal, tarawih justru dikenal sebagai salat yang ringan dan rileks.

 

 

Ramadan hari ke-13 menjadi momen yang baik untuk kembali memaknai ibadah ini. Tarawih bukan hanya soal rakaat yang selesai, tetapi juga tentang ketenangan hati yang hadir di sela-sela sujud. Kadang, yang paling dibutuhkan bukan mempercepat ibadah, melainkan memperlambat diri agar lebih merasakan maknanya.

 

 

Sebab di Ramadan, bukan hanya waktu yang sedang berjalan. Jiwa kita juga sedang belajar pulang.

 

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

أحدث أقدم