Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 268)
Ramadan hari ke-26 sering
menjadi momen yang unik. Di satu sisi, energi ibadah mulai mencapai puncaknya.
Di sisi lain, banyak orang mulai bersiap pulang kampung, bertemu keluarga, atau
merencanakan pertemuan dengan sahabat lama. Di titik inilah silaturahim
menemukan maknanya yang paling terasa.
Sering kali kita memahami
silaturahim hanya sebagai tradisi sosial: berkunjung, berjabat tangan, atau
saling meminta maaf. Padahal jika ditelusuri dari akar katanya dalam bahasa
Arab, makna silaturahim jauh lebih dalam.
Kata silah berarti menyambung
sesuatu yang putus. Gambaran paling sederhana adalah benang yang terlepas lalu
diikat kembali. Tetapi silah juga memiliki arti lain yang tidak kalah menarik:
mengurai benang yang kusut. Artinya, silaturahim bukan sekadar bertemu,
melainkan juga keberanian untuk meluruskan hubungan yang rumit, memperbaiki
kesalahpahaman, dan menjernihkan hati.
Sementara kata ar-rahim
memiliki dua makna penting. Pertama adalah sifat Allah, Ar-Rahim, yang
menggambarkan kasih sayang yang sangat dekat kepada hamba-Nya. Kedua adalah
rahim, tempat manusia pertama kali tumbuh dalam kasih sayang seorang ibu. Dari
dua makna ini terlihat bahwa silaturahim sebenarnya adalah usaha menjaga dan
memperluas lingkaran kasih sayang dalam kehidupan.
Menariknya, Nabi Muhammad
mengaitkan silaturahim dengan dua hal yang sangat manusiawi: rezeki dan umur
panjang. Dalam hadis disebutkan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya
dan dipanjangkan umurnya hendaknya menyambung silaturahim.
Jika dipikirkan secara
kritis, pesan ini sangat masuk akal. Orang yang memiliki banyak relasi,
sahabat, dan jaringan sosial biasanya memiliki peluang hidup yang lebih luas.
Informasi, kesempatan, dan bantuan sering datang melalui hubungan yang terjaga
dengan baik.
Bahkan penelitian modern
menunjukkan hal yang serupa. Orang yang sering bertemu dengan keluarga dan
sahabat cenderung lebih sehat dan lebih bahagia dibanding mereka yang hidup
terisolasi.
Maka di Ramadan H26 ini,
mungkin silaturahim bukan hanya soal tradisi menjelang Lebaran. Ia adalah
latihan sederhana untuk merawat hubungan, mengurai kekusutan hati, dan membuka
pintu-pintu kebaikan yang sering datang dari orang lain.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

Posting Komentar