Ramadan H25 Fidyah Puasa dan Jalan Kemudahan Dalam Islam

 


Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 269)



 

Ramadan selalu identik dengan kewajiban puasa bagi umat Islam. Sejak fajar hingga terbenamnya matahari, umat muslim menahan diri dari makan, minum, dan berbagai hal yang membatalkan puasa. Namun realitas kehidupan menunjukkan bahwa tidak semua orang mampu menjalankan kewajiban tersebut. Dalam kondisi inilah Islam menghadirkan konsep fidyah sebagai bentuk keringanan yang tetap menjaga nilai ibadah.

 

 

Konsep fidyah sering dipahami secara sederhana sebagai “pengganti puasa dengan memberi makan orang miskin”. Tetapi sebenarnya, syariat ini memiliki dasar yang jelas serta batasan tertentu. Pertanyaan yang sering muncul adalah: siapa sebenarnya yang diperbolehkan membayar fidyah dan bukan mengganti puasa di hari lain?

 

 

Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Surah Al-Baqarah ayat 184. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa. Namun kewajiban mereka bukan membayar fidyah, melainkan mengganti puasa tersebut di hari lain setelah Ramadan, yang dikenal dalam fikih sebagai qada.

 

 

Berbeda dengan kondisi tersebut, ayat yang sama juga menyebut kelompok yang tidak mampu menjalankan puasa secara permanen atau sangat berat. Bagi mereka, Islam memberikan alternatif berupa fidyah, yaitu memberi makan kepada orang miskin sebagai pengganti hari puasa yang ditinggalkan.

 

 

Siapa Saja yang Boleh Membayar Fidyah?

 

Para ulama fikih menjelaskan bahwa kondisi “tidak mampu” biasanya merujuk pada beberapa kelompok tertentu. Pertama adalah orang yang menderita penyakit kronis atau menahun. Jika puasa dapat memperburuk kondisi kesehatan atau bahkan membahayakan nyawa, maka kewajiban tersebut dapat diganti dengan fidyah.

 

 

Kelompok kedua adalah kondisi tertentu seperti ibu hamil atau menyusui. Dalam beberapa pendapat ulama, jika puasa dikhawatirkan mengganggu kesehatan ibu atau bayi, maka fidyah dapat menjadi pilihan pengganti.

 

 

Kelompok lain yang juga sering dibahas adalah pekerja dengan beban fisik sangat berat, seperti buruh angkut atau pekerjaan serupa yang menuntut energi besar untuk mempertahankan kehidupan keluarga.

 

 

Cara Membayar Fidyah

 

Fidyah dilakukan dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan. Nilainya biasanya disesuaikan dengan standar makanan yang biasa dikonsumsi oleh orang yang membayar fidyah.

 

 

Sebagai contoh, jika seseorang meninggalkan puasa selama sepuluh hari, maka ia dapat memberikan makanan kepada sepuluh orang miskin atau menyerahkan nilai makanan tersebut dalam bentuk bahan pokok atau uang setara.

 

 

Fidyah dan Prinsip Kemudahan Beragama

 

Di balik aturan fidyah terdapat prinsip penting dalam ajaran Islam, yaitu kemudahan. Agama tidak dimaksudkan untuk memberatkan manusia. Ketika seseorang benar-benar tidak mampu menjalankan puasa, syariat tetap menyediakan jalan yang memungkinkan ibadah tetap terlaksana.

 

 

Fidyah juga memperlihatkan dimensi sosial dalam ibadah. Setiap fidyah yang dibayarkan berarti ada orang miskin yang mendapatkan makanan. Dengan demikian, puasa Ramadan tidak hanya berbicara tentang pengendalian diri, tetapi juga tentang kepedulian terhadap sesama.

 

Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

Sumber : Youtube Kemendikdasmen

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama