Kisah Nyata: Tujuh Tahun Mengajar, Air Mata Perpisahan Guru Honorer

 



Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag

Guru SKI MTsN 2 Garut

Kabid Humas AGERLIP PGM Indonesia

(Naskah ke 226)



 

Pagi itu, ruang kelas sekolah dasar di Kota Cimahi terasa berbeda. Tidak ada tawa riuh seperti biasanya, tidak pula canda kecil yang kerap menyelinap di sela pelajaran. Seorang guru honorer berdiri di depan kelas dengan suara bergetar, menyampaikan satu kabar yang tak pernah ingin ia ucapkan: ia memutuskan resign setelah tujuh tahun mengabdi.

 

 

Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Di ruang kelas sederhana itulah ia belajar mencintai profesi guru sepenuh hati. Ia mengenal satu per satu karakter muridnya yang pendiam, yang usil, yang selalu duduk paling depan, hingga yang kerap tertidur di jam terakhir. Semua tumbuh bersama, saling menguatkan tanpa sadar.

 

 

Ketika kalimat pengunduran diri itu selesai diucapkan, tangis pun pecah. Murid perempuan dan laki-laki sama-sama tak kuasa menahan air mata. Beberapa menunduk, yang lain langsung berdiri dan memeluk sang guru. Pelukan kecil dengan tangan mungil itu seolah berkata, “Jangan pergi, Bu… jangan sekarang.”

 

 

Satu per satu murid bergantian memeluknya. Ada yang menangis terisak, ada pula yang hanya diam sambil memegang ujung bajunya, seakan ingin menahan waktu agar tidak bergerak. Sang guru berusaha tersenyum, meski matanya basah. Ia tahu, keputusannya berat bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anak yang telah ia anggap seperti keluarga sendiri.

 

 

Keputusan resign bukan karena cinta yang berkurang, melainkan karena realitas yang kerap tak ramah pada guru honorer. Tujuh tahun mengabdi dengan penghasilan terbatas, status yang tak pasti, dan kebutuhan hidup yang terus berjalan akhirnya memaksanya memilih jalan lain. Namun, cinta murid-muridnya menjadi bukti bahwa pengabdiannya tidak sia-sia.

 

 

Saran dan Solusi


Agar kisah pilu seperti ini tidak terus berulang, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian bersama. Pertama, pemerintah daerah perlu memberikan kepastian status dan kesejahteraan guru honorer yang telah lama mengabdi. Kedua, sekolah bisa membangun sistem pendampingan dan advokasi agar suara guru honorer lebih terdengar. Ketiga, masyarakat dan orang tua murid dapat ikut mendukung dengan menguatkan gerakan empati dan apresiasi terhadap guru.

 

 

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, tetapi juga tentang manusia, guru yang mengajar dengan hati, dan murid yang mencintai dengan tulus. Jika cinta sebesar itu harus berakhir dengan perpisahan, maka sudah saatnya sistem yang berubah, bukan pengabdian yang dipatahkan.

 

Post a Comment

أحدث أقدم