Kasmawati, Srikandi Literasi dari Timur

Oleh: Deni Kurniawan As'ari | Sekjen Agerlip PGM Indonesia



Di provinsi yang kaya budaya dan lautnya, Sulawesi Selatan, lahirlah seorang wanita yang kemudian menjadi inspirasi pendidikan di daerah timur Indonesia. Ia adalah Kasmawati, S.Ag., M.Pd., yang lahir pada 1 Februari 1974 di Pulau Selayar — tempat di mana ombak menghantam batu karang dan semangat anak muda tak pernah padam.

 

Kasmawati menikah dengan Muhammad Yakub Asis, dan dari pernikahan itu mereka dikaruniai dua anak: Ahmad Nahdatul Imam dan Arifah Nahdiyatul Ummah. Bersama keluarga kecilnya, ia menempuh hidup di Binamu, Jeneponto, Sulawesi Selatan — sebuah tempat yang menjadi saksi dedikasinya mengabdi dalam dunia madrasah dan literasi.

 


Sebelum menduduki jabatan sebagai pengawas madrasah, ia mengemban tugas sebagai kepala madrasah selama 13 tahun. "Masa kepemimpinan saya di madrasah swasta membentuk karakter kepemimpinan dan pemahaman saya tentang tantangan pendidikan di lapangan: keterbatasan sarana-prasarana, tuntutan kualitas pendidikan, dan kebutuhan profesional guru di daerah terpencil," ujar peraih Award sebagai Pengawas Inovatif dari Kelompok Kerja Pengawas Madrasah Nasional (Pokjawasmadnas) bulan Juni lalu di Bandung.

 

Kemudian, sebagai pengawas madrasah, ia beralih dari memimpin satu institusi ke membina banyak institusi — menjadi pembina, pengawas, dan pendamping bagi madrasah-madrasah di wilayah binaannya. Dalam daftar peserta refreshment fasilitator inklusi 2024, tercatat bahwa Kasmawati, S.Ag., M.Pd. dari MTsS Al-Falah Arungkeke, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, hadir sebagai pengawas yang ikut diperkuat kompetensinya.

 

Pena, Puisi, dan Literasi yang Berkembang

Selain tanggung jawab administratif dan supervisi madrasah, Kasmawati memiliki sisi lain yang penting — dunia literasi. Ia menulis buku tunggal Elegi Rindu Buat Guruku dan Perempuan Kata, yang memuat ungkapan jiwa dan refleksi personal tentang guru, pendidikan, dan peran perempuan. Di samping itu, ia menulis belasan, bahkan puluhan antologi puisi, cerpen, kisah nyata, serta best practice pendidikan yang diterbitkan melalui berbagai media dan platform seperti sulsel.kemenag.go.id, Pergumapi.co.id, dan situs Klikhijau.

 

Salah satu karya antologinya yang menyentuh adalah Janji di Bulan Desember, sebuah kumpulan puisi yang ia tulis bersama suami, Muhammad Yakub Asis, serta penyair dari Sulawesi Selatan dan Tarakan. Dalam sajak-sajaknya, ia menyatukan rindu, perjuangan guru, dan kerinduan moral dalam ruang kata.

 

Pada tahun 2020, Kasmawati menuliskan pengalamannya membangun madrasah menjadi institusi yang berprestasi di tingkat nasional. Dalam lomba GTK Madrasah Nasional yang digelar di Lampung, ia berhasil meraih Juara 2 Kepala Madrasah Berprestasi Tingkat Nasional — sekaligus mendapat penghargaan Best Practice Kepala Madrasah Tingkat Nasional. Selain itu pada 2025 ia dinobatkan sebagai Penulis Terbaik III Naskah Buku Agerlip PGM Indonesia kategori pengawas tingkat nasional. Keberhasilan ini menjadi latar bahwa kiprahnya bukan sekadar jabatan, tetapi nyata dalam prestasi pendidikan di lapangan.

 

Dalam perjalanan kariernya, Kasmawati menunjukkan karakter seorang srikandi — lembut dalam tutur, tetapi tegas dalam keputusan. Dedikasinya untuk wilayah timur Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan pendidikan tidak hanya pusat, tetapi harus merambah ke pelosok. Ia aktif di dunia pendidikan sebagai pengawas juga terjun menyebarluaskan spirit literasi di pelosok timur Indonesia.

 

Tantangan yang dihadapinya tentu besar: koordinasi ke wilayah terpencil, keterbatasan sumber daya, rendahnya akses publikasi di daerah, hingga beban ganda antara tugas pengawasan dan literasi. Namun lewat pena dan karya, ia menembus batas geografis agar suara madrasah dan guru di timur lebih terdengar.

 

Kasmawati menjadi contoh nyata bahwa seorang guru atau kepala madrasah bisa menjadi pengawas yang tak lupa menyapa dunia literasi. Jejaknya akan dikenang sebagai sosok yang mendampingi madrasah lewat pengawasan sekaligus memberi inspirasi lewat puisi dan narasi pendidikan.

 

Harapan ke depan adalah agar karya-karya puisinya tetap hidup — menjadi sumber inspirasi bagi guru, siswa, dan masyarakat. Semoga generasi madrasah di Sulawesi Timur dan seluruh Indonesia bangkit lewat literasi dan kehadiran pemimpin seperti Kasmawati: yang mampu menyulam kualitas pendidikan di wilayah pinggiran dan memancarkan sinar ilmu hendak merata.

***


أحدث أقدم