Oleh: Deni Kurniawan As'ari | Sekjen Agerlip PGM Indonesia
Di sebuah pulau yang dikelilingi laut Madura, tepatnya Sumenep, lahirlah pada 2 Januari 1974 seorang anak yang kelak menjadi pengawas madrasah yang penuh semangat. Fathor Arifin, MPd., sejak muda, ia sudah menunjukkan gelora terhadap dunia pendidikan, yang kemudian membawanya ke panggung pengawasan pendidikan dan literasi yang lebih luas.
Pendidikan formalnya menapaki jalur yang cukup khas bagi pendidik yang berkembang: S1 pada jurusan Pendidikan Ekonomi di IKIP Malang, lulus sekitar tahun 1998, kemudian melanjutkan ke Magister Manajemen Pendidikan pada tahun 2008. Dua gelar itu memperkuat landasan teoritisnya dalam pendidikan dan administrasi, yang akan sangat berguna dalam kariernya sebagai pengawas.
Dari Pengajar ke Pengawas: Perjalanan yang Tidak Singkat
Setelah menamatkan studi S1, Fathor tidak langsung masuk ke jabatan pengawas. Ia melewati masa sebagai guru dan aktif menulis, mengikuti lomba-karya ilmiah dan kompetisi penulisan (LKTI, LKP, LKWU, LKEN) di berbagai perguruan tinggi termasuk Universitas Negeri Malang dan Universitas Indonesia. Ini menjadikannya bukan hanya seorang pendidik, tetapi juga pengamat dan kreator dalam ranah pendidikan.
Peran sebagai pengawas madrasah di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep menuntutnya bepergian ke berbagai madrasah, menemui guru-guru, kepala madrasah, serta memperhatikan kondisi pendidikan di kecamatan dan pulau-pulau kecil. Ia juga aktif tampil dalam berbagai seminar, workshop, lokakarya, dan dialog pendidikan, bahkan ikut menjadi narasumber. Dalam satu berita di JavaNetwork, misalnya, Fathor hadir di MTs Unggulan At Taufiqiyah Bluto pada kegiatan Masa Ta’aruf Siswa (MATSAMA) dan menekankan pentingnya moderasi beragama serta pembentukan karakter sejak awal masuk madrasah.
Karya dan Literasi sebagai Jati Diri
Lebih dari sekadar pengajar dan pengawas, Fathor adalah seorang penulis. Karya-karyanya mencakup buku antologi puisi, tulisan non-fiksi tentang pendidikan, budaya lokal, dan best practice madrasah. Beberapa di antaranya disebutkan seperti Pengawas Sumenep Menulis dan Paradigma & Platform Madrasah Digital. Ia juga menulis artikel-artikel yang dimuat di media lokal, regional, dan nasional, membahas tema misalnya karakter sekolah, digitalisasi madrasah, kepemimpinan kepala madrasah, dan metode supervisi.
Keterlibatannya dalam penulisan buku terbaik dalam organisasi literasi seperti Agerlip menandakan bahwa karya beliau tidak hanya pribadi, tetapi juga kontribusi terhadap komunitas guru dan madrasah yang lebih besar. Misalnya, penghargaan Penulis Buku Terbaik II Agerlip (2025) untuk karyanya Paradigma & Platform Madrasah Digital adalah bukti bahwa apa yang dikerjakannya diapresiasi tidak hanya di level lokal, tetapi nasional.
Prestasi dan Penghargaan
Sejumlah prestasi menandai perjalanan yang tak mudah. Pada tahun 2010, Fathor meraih juara pertama sebagai Guru MA Teladan/Berprestasi Tingkat Kabupaten Sumenep, Lima tahun kemudian, tepatnya 2015, dinobatkan Pengawas Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Timur, dan juga Juara II Pengawas Berprestasi Tingkat Nasional melalui lomba yang diadakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Terbaru, penghargaan naskah buku terbaik II dalam Agerlip Award, semakin menegaskan bahwa selain bekerja di pengawasan, ia juga berkarya secara literasi.
Fathor tumbuh di Madura, tanah dengan budaya yang kuat menjunjung nilai sopan santun, kemandirian, dan kerja keras. Nilai-nilai keluarga seperti kejujuran, amanah, dan semangat belajar seringkali muncul dalam pandangannya terhadap pendidikan. Ia percaya bahwa guru dan pengawas harus bukan hanya sebagai pemegang jabatan, tetapi sebagai teladan dan penggerak perubahan.
Salah satu filosofi yang sering diucapkannya dalam kegiatan publik adalah bahwa madrasah harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman — digitalisasi, pendidikan karakter, moderasi beragama — namun tetap bersandar pada akar budaya dan nilai-nilai lokal. Dalam kegiatan MATSAMA di MTs At Taufiqiyah, sebagai contoh, ia tidak hanya membahas materi akademis, tetapi menekankan bahwa siswa "tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara karakter dan mampu hidup dalam keberagaman" sebagai bagian dari visi pendidikan yang menyeluruh.
Karier Fathor bukan tanpa rintangan. Pengawasan madrasah di wilayah terpencil dengan akses transportasi dan infrastruktur yang terbatas menjadi tantangan nyata. Selain itu, pengembangan literasi dan karya tulisan baik di media cetak maupun digital memerlukan waktu, dukungan finansial dan sumber daya manusia yang seringkali terbatas.
Namun Fathor terus melihat peluang: bahwa guru madrasah di Sumenep dapat diberdayakan lewat pelatihan, kolaborasi, dan penggunaan teknologi. Ia berharap agar pendekatan supervisi yang ia lakukan bisa menjadi model bagi kabupaten-lain di Madura dan daerah Timur Indonesia: bahwa pengawas tidak hanya mencatat kekurangan, tetapi menjadi pendamping nyata dalam kemajuan sekolah dan madrasah.
***
