Oleh:
Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua umum Agerlip PP PGM Indonesia
Apa masalah utama kita tentang Pancasila?
Masalah utama kita bukan pada kurangnya pengetahuan tentang Pancasila. Hampir semua orang hafal lima silanya. Siswa sejak sekolah dasar sudah diajarkan. Namun persoalannya ada pada praktik. Pengetahuan tidak otomatis menjadi perilaku.
Dalam ilmu pendidikan, ada perbedaan antara knowing dan doing. Seseorang bisa tahu mana yang benar, tetapi belum tentu melakukannya. Di sinilah letak pentingnya pembiasaan. Nilai harus dilatih, bukan hanya diajarkan.
Pancasila seharusnya menjadi bagian dari pendidikan karakter. Bukan sekadar materi pelajaran. Ia harus hadir dalam budaya sekolah. Dalam aturan, dalam interaksi, dan dalam keteladanan guru.
Ketuhanan misalnya, tidak cukup diajarkan lewat teori. Siswa perlu melihat contoh. Guru yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab adalah bentuk konkret. Dari situ siswa belajar bahwa nilai itu hidup.
Kemanusiaan juga demikian. Sekolah harus menjadi tempat yang aman. Tidak ada perundungan. Tidak ada diskriminasi. Siswa dilatih untuk saling menghargai. Ini adalah praktik langsung dari sila kedua.
Persatuan bisa dibangun melalui kegiatan bersama. Kerja kelompok, gotong royong, dan kegiatan sosial. Siswa belajar bahwa perbedaan bukan penghalang. Justru menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik.
Sila kerakyatan bisa dilatih melalui musyawarah. Libatkan siswa dalam pengambilan keputusan sederhana. Misalnya dalam menentukan kegiatan kelas. Mereka belajar menyampaikan pendapat dan menghargai orang lain.
Keadilan sosial harus dirasakan. Perlakuan guru harus adil. Tidak pilih kasih. Penilaian harus objektif. Dari sini siswa memahami arti keadilan secara nyata.
Kita sering berharap pemimpin yang baik. Namun kita lupa bahwa pemimpin lahir dari proses pendidikan. Jika sejak awal nilai tidak ditanamkan dengan benar, hasilnya akan terlihat di masa depan.
Peran keluarga juga sangat penting. Orang tua adalah pendidik pertama. Apa yang dilihat anak di rumah akan membentuk karakternya. Jika di rumah ada kejujuran dan tanggung jawab, anak akan terbiasa.
Peringatan Hari Lahir Pancasila bisa menjadi momentum pendidikan. Sekolah tidak cukup mengadakan upacara. Harus ada kegiatan yang menyentuh perilaku. Diskusi, simulasi, dan praktik sosial lebih efektif.
Jika kita ingin Pancasila hidup, maka jalurnya jelas. Pendidikan. Namun bukan pendidikan yang hanya menekankan hafalan. Pendidikan yang membentuk kebiasaan. Dari kebiasaan itu lahir karakter. Dari karakter itulah bangsa ini akan berubah.

إرسال تعليق