Oleh Nurul Jubaedah, S.Ag.,S.Pd.,M.Ag
Guru
SKI MTsN 2 Garut
Kabid
Humas AGERLIP PGM Indonesia
(Naskah
ke 273)
Ramadan H30 dalam program Jendela Ramadan 1447 Hijriah menutup perjalanan
spiritual dengan satu pertanyaan mendasar: setelah semua ibadah selesai, apa
yang benar-benar tersisa? Jawaban yang ditawarkan bukan sekadar refleksi
normatif, tetapi kerangka praktis bernama 3R: refreshing, reunion, dan
recreation.
Namun, menariknya, konsep
ini bisa dibaca lebih kritis. Apakah 3R benar-benar dijalankan sebagai
transformasi, atau hanya berhenti sebagai jargon musiman pasca Lebaran?
Refreshing, misalnya,
sering dipahami sebatas libur panjang dan suasana santai. Padahal, inti yang
disampaikan justru penyegaran iman dan relasi sosial. Di titik ini, ada jarak
antara idealitas dan praktik. Banyak orang kembali pada ritme lama yang justru
mengikis kebiasaan baik selama Ramadan. Ibadah yang sempat meningkat perlahan
menurun, bahkan hilang.
Reunion juga menghadirkan
paradoks. Silaturahmi memang terjadi, tetapi sering kali bersifat seremonial.
Pertemuan keluarga atau teman tidak selalu diiringi upaya memperbaiki relasi
yang sebelumnya renggang. Ada kecenderungan menjaga harmoni di permukaan, tanpa
menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Sementara itu, recreation
menjadi bagian paling menarik sekaligus paling jarang dipahami. Alih-alih
melahirkan gagasan baru, banyak yang memaknainya sebagai sekadar rekreasi
fisik. Padahal, esensi yang ditawarkan adalah penciptaan ulang diri cara
berpikir, cara bekerja, dan cara berkontribusi.
Di sinilah letak kekuatan sekaligus
tantangan dari pesan Ramadan H30. Ia tidak berhenti pada ajakan moral, tetapi
mendorong perubahan konkret. Sayangnya, tanpa kesadaran kritis, 3R berisiko
menjadi rutinitas tahunan tanpa dampak jangka panjang.
Jika dimaknai secara
serius, fase pasca Ramadan justru merupakan ujian sesungguhnya. Bukan lagi
tentang menahan diri, tetapi mempertahankan kualitas diri. Ramadan menjadi
latihan, sementara Syawal adalah implementasi.
Pada akhirnya, 3R bukan
sekadar konsep penutup acara, melainkan tolok ukur: apakah Ramadan benar-benar
mengubah, atau hanya lewat sebagai tradisi berulang.
Penceramah : Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
Sumber : Youtube Kemendikdasmen

Posting Komentar